Makna Lafadz “Talā” Dalam Diskurus ‘Ilm Gharīb al-Qur’ān

Posted: Desember 7, 2010 in Kajian al-Qur'an
  1. A. Pendahuluan

Bahasa adalah suatu media untuk menyatakan kehadiran sebuah realita dan persona. Pengungkapan makna yang terkonsepsikan dalam diri manusia, tidak mungkin dapat dipahami serta ditransformasikan kepada orang lain tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Baik bahasa itu berupa bahasa tulisan, lisan, maupun bahasa isyarat.

Al-Qur’an yang memiliki sisi kemu’jizatan dalam tata-letak (nadzm) kata-kata perkatanya, pun menggunakan bahasa sebagai penyampai pesan ketuhanan (wahyu) yang bi Lā Ṣaut wa Lā Harf. Karenanya, tidak mungkin kalam Tuhan tersebut dapat dipahami maknanya tanpa memahami bahasa yang digunakan, dalam hal ini ialah Bahasa Arab. Dan al-Qur’an yang merupakan Kitab Primer dalam Agama Islam—meliputi aspek ajaran, keilmuan, sejarah, dan lain sebagainya—tentunya mendapatkan respon yang sangat beragam dari pembacanya guna menangkap makna agung yang terkandung di dalamnya. Beberapa diskursus keilmuan pun bermunculan dari kitab tersebut, mulai dari Kalam, Fiqh, Tafsir, hingga beberapa keilmuan kebahasaan yang tidak mengandung doktrin keagamaan. Dalam artian, kajian kebahasaan yang muncul dari Al-Qur’an—semisal Nahwu, Balaghah, Sharaf, dan lain sebagainya—dapat digunakan dalam menganilisis teks-teks bahasa Arab lainnya yang tidak ada korelasinya dengan Ajaran Islam.

Salah satu diantaranya ialah Ilm Gharīb al-Qur’ān, yakni ilmu yang membahas tentang makna kata perkata dari susunan ayat al-Qur’an. Dan dalam catatan singkat ini akan diuraikan makna dari kata Talā-Yatlū, baik dari sisi tinjauan makna asal, ataupun makna-makna bentukan darinya (isytiqāq / derivasi).

  1. B. Pembahasan
    1. 1. Makna Asal

Kata Talā-Yatlū memiliki makna asal “mengikuti” (Tabi’a), akar katanya tuluwwun atau tilwun, baik mengikuti gerakan, maupun mengikuti petunjuk yang diberikan.[1] Selanjutnya kata ini dipakaikan untuk makna membaca dan juga tadabbur al-ma’na (meresapi makna) dari sebuah bacaan, dan akar kata—dari lafadz Talā-Yatlū—yang bermakna demikian ini (makna kedua) ialah al-Tilāwah.[2]

Adapun dalam Lisān al-‘Arab, kata ini memiliki beberapa makna dasar, diantaranya meninggalkan, membelakangi, menelantarkan, mengikuti dan mendahului.[3] Atlaitu Fulān bermakna Taqaddamtuhu (mendahuluinya) dan menjadikannya di belakangku.

  1. 2. Makna Derivasi
    1. استتلي, bermakna menunggu

استَتْلَيْت فلاناً أَي انتظرته[4]

Lafadz ini mengikuti wazan Istaf’ala yang berfaedah li al-Thalāb (mengharap). Kemudian jika dikaitkan dengan makna asal, yaitu mengikuti, maka terdapat relasi makna, yakni mengharap untuk diikuti. Karena pada dasarnya, ketika kita menunggu seseorang berarti kita berharap agar ia mengikuti kita, atau dengan kata lain berharap agar ia mengikuti jejak kita pada suatu tempat tertentu. Adapun jika dihubungkan dengan makna asal “meningalkan atau menelantarkan”, maka keterkaitan makna antara menunggu dengan makna asal ialah: suatu proses penantian disebabkan seseorang telah mendahuluinya, atau sampai pada suatu tempat lebih awal daripada yang ditunggu. Sehingga ada kesamaan “mendahului” antara meninggalkan dan menunggu.

  1. المتْلية والمتْلي

Kata ini bermakna sesuatu yang dilahirkan terakhir kalinya, atau “anak bungsu”. Bermakna demikian karena anak terakhir tersebut mengikuti jejak anak pertama (al-Mubakkirah). Dalam artian anak tersebut lahir setelah proses kelahiran anak sebelumnya. Ada juga pendapat yang mengatakan, kata ini merujuk pada makna sesuatu yang memberatkan, atau kepala yang tertutup karena dosa dan rasa malu. Dan disebutkan dalam Lisān al-‘Arab, inilah makna derivasi yang sama sekali tidak ada kesesuaiannya dengan makna asalnya.[5]

  1. c. المتالي

Makna kata ini ialah Para ibu (Ummahāt jamak dari Umm). Jika ditelisik relasi makna antara makna kata ini (ibu) dengan makna asal lafadz Talā-Yatlū yang berarti mengikuti, maka dapat ditarik satu kesamaan. Karena pada hakikatnya, Ibu ialah orang yang diikuti oleh anaknya, baik secara genetis maupun secara tingkah laku. Namun menurut al-Bahiliy, kata ini juga bermakna unta yang dilahirkan sebagian, dan sebagian yang lainnya tidak. Hemat penulis yang dimaksudkan dari kalimat ini ialah unta yang lahir mendahului saudaranya yang masih terdapat dalam kandungan ibunya[6]

  1. تَلَّى

Lafadz ini bermakna melaksanakan pekerjaan setelah melakukan pekerjaan lain, berturut-turut. Seperti dalam contoh:

تَلَّى فلان صلاته المكتوبة بالتطوع[7]

  1. التلاوة

Kata ini dikhususkan pada Ittibā terhadap Kitāb Allāh, baik itu dengan membaca, maupun dengan mengamalkan—dengan menjalankan perintah-perintah yang, dan menjauhi larangan-larangan terkandung di dalamnya.[8] Karena membaca pun juga memiliki keterkaitan makna dengan makna asal—mengikuti—, maksudnya membaca pada dasarnya mengikuti (dan juga merangkaikan kata-perkata) dari apa yang dibaca.[9]

}وإذا تتلى عليهم آياتنا{ [الأنفال/31][10]

}وإذا تليت عليهم آياته زادته إيمانا{ [الأنفال/2][11]

  1. 3. Variasi Makna yang digunaan dalam al-Qur’an

Berdasarkan pencarian pribadi penulis, lafadz Yatlū dalam al-Qur’an terdapat tujuh lafadz, enam diantaranya (al-Baqarah: 129, 151, Ali Imran: 164, al-Qashash: 59, al-Jum’ah: 2, al-Thalaq: 11) selalu diiringi oleh Āyāt (Āyātinā, Āyātihi, Āyātika, Āyāt Allāh) sebagai objek dari lafadz tersebut. Adapun satu ayat lainnya memiliki objek Shuhuf Muthahharah (al-Bayyinah: 2). Dan kesemuanya memiliki subjek yang sama, yakni Rasul. Sedangkan lafadz Tatlū terdapat dalam empat ayat. Adapun dalam kitab Fath al-Rahmān, dalam al-Qur’an lafadz Talā beserta derivasinya terdapat 62 lafadz, baik dalam bentuk madli, mudlari’, maupun amarnya.[12] Adapun mengenai beberapa maknanya—untuk tidak mengatakan cakupan semua makna—adalah sebagai berikut:

  1. Mengiringi

ħ÷K¤±9$#ur $yg8ptéÏur ÇÊÈ ÌyJs)ø9$#ur #sŒÎ) $yg9n=s? ÇËÈ [13]

Dalam ayat ini Talā bermakna mengiringi, dengan artian bulan mengiringi matahari karena tidak dapat memancarkan cahaya dengan sendirinya. Bulan hanya bisa memberikan cahaya dengan memantulkan cahaya matahari.[14] Hal ini juga diperkuat dengan ayat:

}جعل الشمس ضياء والقمر نورا{ [يونس/5][15]

  1. Membaca

}واتل ما أوحي إليك من كتاب ربك{ [الكهف/27][16]

Ayat ini menggunakan redaksi Talā dalam bentuk Fi’l Amr, yakni bermakna perintah. Dan dalam ayat ini, lafadz Talā bermakna membaca,[17] atau dalam fi’l amr bermakna “bacalah”/ “bacakanlah”.

  1. Mengikuti (bacaan) dengan Ilmu dan Amal

}يتلونه حق تلاوته{ [البقرة/121][18]

Al-Raghib menyebutkan makna Talā dalam ayat ini ialah mengikuti dengan ilmu dan amal,[19] namun tetap dalam batasan objek yang diikuti ialah bacaan—al-Qur’an—seperti yang diuraikan sebelumnya. Akan tetapi terdapat sedikit perbedaan pemaknaan dalam ayat ini. Ibn Mas’ud berpendapat: Ayat ini bermakna membaca sesuai dengan apa yang diturunkan, dengan tidak merubah redaksi (dari sisi Qirā’ah) dan juga substansi (tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal). Sedangkan menurut al-Hasan: Mengamalkan yang Muhkām, mengimani yang Mutasyābih, serta menggali makna yang tidak ia ketahui. Dan pendapat terakhir dari Mujahid yang hampir sama dengan pendapat al-Raghib: Mengikuti dengan sungguh-sungguh (Haqq al-Tibā’ih).[20]

  1. Menurunkan

}ذلك نتلوه عليك من الآيات والذكر الحكيم{ [آل عمران/58]

Kembali menurut al-Raghib yang menyatakan bahwasannya makna Natlūhu dalam ayat ini ialah “Menurunkan”. Adapun menurut al-Razi, lafadz Natlūhu dalam ayat ini bermakna Naqushshuhu (menceriterakan). Menurut beliau, al-Tilāwah dengan al-Qashash bermakna satu. Hal ini didasarkan pada analisis beliau mengenai dua ayat yang menggunakan lafadz Natlū yang memiliki objek “Naba” (ceritra), dan juga lafadz Naqushshu yang memiliki objek al-Qashash itu sendiri.[21]

  1. Mengabarkan

}واتبعوا ما تتلو الشياطين على ملك سليمان{ [البقرة/102][22]

Al-Razi menyebutkan, lafad Tatlū dalam ayat ini memiliki dua wajh. Pertama, bermakna mengabarkan (mewartakan). Kedua, mendustakan (memberikan kabar bohong tentang kerajaan Sulaiman as.). Kemudian al-Razi memberikan pendapatnya bahwa makna yang pertama lebih unggul, karena hakikat dari mendustakan ialah tetap dalam batasan memberikan kabar (menginformasikan), terlepas dari kabar tersebut benar atau pun salah.[23]

  1. C. Penutup

Dari sedikit uraian di atas, kita dapat mengetahui betapa luasnya cakupan makna dari tiap-tiap lafadz al-Qur’an, baik itu makna yang dipakai oleh al-Qur’an itu sendiri, maupun makna lain di luar al-Qur’an. Sehingga kajian terhadap makna al-Qur’an memerlukan kajian yang sangat mendalam. Dan tentunya tulisan singkat ini bukanlah kajian akhir dari sebuah lafadz al-Qur’an, dan pastinya juga terdapat banyak kekurangan, baik dari sisi pemahaman penulis terhadap sumber asli, kesalahan penyampaian, kurang lengkapnya data yang disampaikan, maupun kedangkalan analisis penulis sendiri. Diharapkan kritik serta saran guna perbaikan penulis secara pribadi ke depan, juga bagi diskursus ke-Islam-an secara general.

Wallahu A’lam bi al-Shawab


[1] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.th), hlm. 75. Lihat juga: Achmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 138.

[2] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[3] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 102.

[4] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, hlm. 102.

[5] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, hlm. 102

[6] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, hlm. 102.

[7] Al-Azhari, Tahdzib al-Lughah Juz V, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 21.

[8] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[9] Al-Azhari, Tahdzib al-Lughah Juz V, hlm. 21.

[10] Terjemahannya: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami,….”

[11] Terjemahannya: “…..dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya),,,”

[12] Al-Hasaniy, Fath al-Rahmān, (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th) hlm. 70-71.

[13] Al-Syams [91]: 1-2 yang artinya: 1.  Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, 2.  Dan bulan apabila mengiringinya,

[14] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[15] Terjemahan: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya….”, antara al-Dliyā dan al-Nūr terdapat perbedaan, yakni al-Dliyā memiliki kekuatan cahaya lebih tinggi daripada al-Nūr, dan kemudian diartikan bahwa bulan hanya memantulkan cahaya dari matahari yang dapat bersinar dengan sendirinya. Lihat: Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75.

[16] Terjemahan: Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al Quran).

[17] Al-Khazin, Lubāb al-Ta’wil fi Ma’ān al-Tanzil Juz IV, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 308.

[18] Terjemahan: Orang-orang yang Telah kami turunkan Al Kitab kepadanya,

[19] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[20] Al-Baghawi, Ma’ālim al-Tanzil Juz I, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 144.

[21] Fakhr al-Din Al-Razi, Mafātih al-Ghaib Juz IV, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 233.

[22] Terjemahan: Dan mereka mengikuti apa yang diberitakan (dibacakan) oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir),

[23] Fakhr al-Din Al-Razi, Mafātih al-Ghaib Juz II, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 250.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s