Nasi Tukar Bendera

Posted: November 30, 2010 in Politik

Bencana alam, istilah yang membuat hati tersentak. Fenomena alam yang terjadi secara dadakan meniscayakan adanya kekeagetan

mental, dan korban pun menjadi konsekuensi yang tidak bisa ditawar. Korban yang berjatuhan mengundang simpati dari manusia lain yang merasa terpanggil nuraninya untuk saling membantu dan menukar kesedihan para korban dengan bantuan yang ditawarkan.

Merapi salah satunya, letusan yang terjadi 26 oktober lalu—disusul kemudian beberapa erupsi—menewaskan beberapa korban, Mbah Marijan pun masuk ke dalam daftar nama yang dinyatakan tewas karena panasnya awan hitam. Pasca letusan yang menggembalakan wedus gembel keluar dari kandangnya tersebut, warna putih bendera Indonesia kembali menyala dengan terangnya. Kita bisa sangat bangga dengan budaya tulung-tinulung yang dimiliki bangsa kita. Bantuan serentak membanjiri posko-posko pengungsian di sekitar Jogja-Magelang. Tidak hanya bantuan material (logistik, alat mandi, obat-obatan, dan lain sebagainya), tapi juga bantuan penyuluhan mental dan spiritual, seperti misalnya Trauma Healing untuk anak-anak, ataupun ceramah-ceramah keagamaan. Betapa Indonesia adalah bangsa yang berbudi luhur tak tertandingi.

Sangat disayangkan jika kebanggaan kita itu akhirnya terkikis oleh kekecewaan yang jauh lebih dalam. Dari sekian banyaknya posko yang didirikan, keragaman tujuan nampak tergambarkan. Betapa tidak, posko-posko tersebut dengan megahnya berdiri dengan kesan kemanusiaan yang begitu tinggi, namun tidak bisa dipungkiri, dari tulusnya bantuan yang diberikan, tersimpan tendensi politik yang begitu tinggi. Sangat bersebrangan dengan misi suci kemanusiaan yang mereka usung (secara lahiriyah). Para penggila suara dan massa itu saling berebut pengaruh di atas kekosongan hati para korban. Para politikus itu mengendus adanya satu kesempatan emas, di kala mental seseorang kacau yang diakibatkan oleh bencana alam, tentu kejiwaan (mentalita) mereka sangat mudah bersimpati kepada orang yang mau menolong mereka. Rasa terima kasih pun ditukarkan dengan kesetiaan terhadap golongan yang dirasa paling berjasa dalam menyelamatkan jiwa mereka. Tidak hanya partai politik yang berebut, tapi ormas, dan beberapa organisasi keagamaan pun turut andil dalam menghinakan martabat golongan mereka. Menukarkan Nasi mereka dengan simpati para korban dengan harapan nanti para korban tersebut menjadi bagian dari kelompok mereka. Sungguh bejat politik semacam ini. Memanfaatkan penderitaan orang lain dengan kepentingan pragmatis. Nurani kemanusiaan tergadaikan oleh kerakusan duniawi. Dakwah agama bukan lagi menjadi ajang Li I’la’i Kalimat Allah, tapi Li I’la’i Kalimat al-Siyasah, saling berebut pengaruh dan otoritas agama.

Kita pun tentunya tidak menafikan adanya beberapa organisasi yang murni bertujuan kemanusiaan, seperti “PMI” dan beberapa instansi lainnya—baik secara individu ataupun komunal. Namun hanya sebagian kecil dari banyaknya simpatisan yang ada. Penulis pun menyadari kebutuhan partai politik dan ormas keagamaan terhadap pengaruh dan massa, namun setidaknya tendensi politik tersebut tidak harus menempati porsi yang lebih besar dibanding bantuan yang diberikan, ataupun setidaknya hanya sekedar pengenal, bukan menjadi pamrih utama. Juga kita tidak bisa meniadakan peran mereka yang cukup membantu instansi pemerintah dalam menanggulangi bencana (yang memang kurang begitu tanggap dalam menanganinya, baik pusat maupun daerah).

Pak Presiden dan Ibu Negaranya turut menampilkan diri sebagai pahlawan, beliau menegaskan akan membantu memperbaiki rumah-rumah warga yang rusak akibat bencana Merapi. Semoga ucapan tersebut tidak hanya menjadi harapan kosong. Dan kita berharap, ketulusan Pak Presiden ini tidak tergadaikan dengan ambisi politik pencalonan Presiden empat tahun ke depan, atau tidak ada niat seidkitpun untuk mencari simpati agar tidak dilengserkan.

Tulisan ini merupakan hasil refleksi penulis pribadi selama menjadi relawan di salah satu organisasi sosial. Setidaknya sedikit pengantar kegelisahan atas fenomena sosial ini dapat menggugah kita, bahwa keikhlasan membantu sesama tidaklah harus disertai dengan adanya kepentingan. Kesucian niat, tulung-tinulung, kepedulian terhadap sesama merupakan sifat mulia yang pasti dimiliki oleh setiap makhluk yang mengaku berhati nurani, sehingga sangatlah tidak bijak jika kita mencampur-adukkan antara kepentingan pragmatis kita, dengan memanfaatkan penderitaan orang lain. Begitu pun bagi para korban, setidaknya kita bisa membaca secara kritis atas semua yang terjadi di hadapan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s