باب الاتباع

Posted: December 7, 2010 in Kajian al-Qur'an

Dalam kitab Nazhah al-A’yun al-Nawāẓir fi ‘Ilm al-Wujūh wa al-Naẓāir diuraikan bahwa asal makna dari lafadz Ittibā’ ialah: Melakukannya Muttabi’ (orang yang mengikuti) terhadap jejak langkah Muttaba’ (orang yang diikuti) dalam perjalanannya.[1] Akan tetapi kata ini juga dipakaikan dalam makna: mengikuti agama, pola fikir, dan perbuatan. Lebih jauh lagi dalam kitab tersebut diterangkan bahwasannya para mufassir memberikan pembagian, lafadz ini memiliki dua wajh, namun tidak dicantumkan (di dalam kitab tersebut) ragam makna mengenai hal ini, beliau hanya menghadirkan contoh-contoh mengenai dua wajh, yakni:

Wajh pertama, terdapat dalam dua contoh ayat:

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ ]طه/78[

فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ [الشعراء/60]

Wajh kedua, terdapat dalam empat contoh ayat:

إذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (166) وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ [البقرة/166، 167]

Kemudian setelah dihadirkan contoh-contoh dua wajh dalam kitab tersebut, Muallif memberikan pendapatnya, beliau berkata: Dalam perbedaan wajh antara Ittibā’ dan Itbā’ (baik di-takhfīf maupun di-tasydīd) tidak memiliki perbedaan makna, kedua lafadz tersebut bermakna satu.[2]

Sehingga jelaslah, yang dimaksudkan perbedaan wajh oleh Muallif dalam kitab ini ialah perbedaan redaksi antara takhfīf dan tasydīd, atau dengan kata lain antara lafadz Ittibā’ dan Itbā’. Dan dari perbedaan wajh disini tidak berimplikasi terhadap perbedaan makna. Hampir sama dengan kitab tersebut, dalam kitab al-Wujūh wa al-Naāir fi al-Qur’ān al-Karīm karya Harūn ibn Mūsa, ditegaskan bahwasannya lafadz Ittibā’ memiliki dua wajh. Namun yang dimaksudkan dengan wajh dalam kitab kedua ini sedikit berbeda dengan kitab yang pertama. Jika sebelumnya perbedaan wajh penekanannya terhadap perbedaan bentuk lafadz, sedangkan dalam kitab yang kedua ini lebih menekankan aspek makna.

Dalam kitab kedua tersebut, dua wajh diperinci sebagai berikut:

Wajh pertama:

Ittibā’ bermakna seseorang yang mengikuti seseorang (lain) yang merupakan bagian dari agamanya.[3] Seperti yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah dan QS. Ibrahim:

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ [البقرة/166[ يعني اتبعوا دينهم.

بَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا …..[إبراهيم/21] على دينكم.

Wajh kedua:

Ittibā’ bermakna seseorang yang mengikuti jejak perjalanan temannya (orang lain).[4] Seperti pada contoh QS. Al-Ṡu’arā’:

فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ [الشعراء/60[ يعني اتبعوا موسي, صلي الله عليه وسلم, وقومه مشرقين, فساروا على آثارهم حتى اشترقت الشمس.

Sedangkan dalam kitab lain, Qāmūs al-Qur’ān: Ilah al-Wujūh wa al-Naāir fi al-Qur’ān, pembahasan di dalamnya menggunakan akar kata, yakni ta’ ba’ dan ‘ain (taba’a). Dan lafadz ini disebutkan memiliki tujuh wajh.[5] Dan yang dimaksudkan tujuh wajh disini ialah memiliki tujuh variasi makna.

Pertama: Ittibā’ bermakna al-uhbah (menemani), yaitu dalam contoh QS. Kahfi:

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا  [الكهف/66[ أي هل أصحبك

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا  [الكهف/70] أي صحبتني

Kedua, Ittibā’ bermakna iqtidā’ (mengikuti), contoh QS. Yasin:

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ  [يس/21[ أي اقتدوا به

Ketiga, Ittibā’ bermakna Istiqāmah, dalam contoh QS. Al-Nahl:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [النحل/123[

Keempat, Ittibā’ bermakna Ikhtiyār (pilihan), dalam contoh QS. Al-Nisā’:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [النساء/115[ أي و يختر غير دين الإسلام

Kelima, Ittaba’ū bermakna ‘Amilū (kerjakanlah), contoh QS. Al-Baqarah:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ…..[البقرة/102[  أي وعملوا — يعني اليهود — بما تتلو الشياطين .

Keenam, Ittibā’ bermakna al-alat ilā al-Qiblah (shalar menghadap Kiblat), contoh QS. Al-Baqarah:

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آَيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ [البقرة/145[ أي ماصلوا الى قبلتك .  أي بمصل الى قبلتهم. أي صليت الى قبلتهم.

Ketujuh, Ittibā’ bermakna ā’ah (ketaatan), contoh QS. Al-Nisā’:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا [النساء/83[ يعني أطعتم الشيطان.


[1] Jamāl al-Dīn Abi al-Faraj ‘Abd al-Rahmān ibn al-Jauziy, Nazhah al-A’yun al-Nawāir fi ‘Ilm al-Wujūh wa al-Naāir, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1983), hlm. 85.

[2] Jamāl al-Dīn Abi al-Faraj ‘Abd al-Rahmān ibn al-Jauziy, Nazhah al-A’yun al-Nawāir …, hlm. 86.

[3] Harūn ibn Mūsa, al-Wujūh wa al-Naāir fi al-Qur’ān al-Karīm, (Baghdad: Wizārah al-Tsaqāfah wa al-A’lām, 1988), hlm. 368.

[4] Harūn ibn Mūsa, al-Wujūh wa al-Naāir fi . . ., hlm. 368.

[5] Husain ibn Muhammad al-Dam’āni, Qāmūs al-Qur’ān: Ilah al-Wujūh wa al-Naāir fi al-Qur’ān, (Beirut: Dār al-‘Ilm Li al-Malayīn, 1980), hlm. 85.

  1. A. Pendahuluan

Bahasa adalah suatu media untuk menyatakan kehadiran sebuah realita dan persona. Pengungkapan makna yang terkonsepsikan dalam diri manusia, tidak mungkin dapat dipahami serta ditransformasikan kepada orang lain tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Baik bahasa itu berupa bahasa tulisan, lisan, maupun bahasa isyarat.

Al-Qur’an yang memiliki sisi kemu’jizatan dalam tata-letak (nadzm) kata-kata perkatanya, pun menggunakan bahasa sebagai penyampai pesan ketuhanan (wahyu) yang bi Lā Ṣaut wa Lā Harf. Karenanya, tidak mungkin kalam Tuhan tersebut dapat dipahami maknanya tanpa memahami bahasa yang digunakan, dalam hal ini ialah Bahasa Arab. Dan al-Qur’an yang merupakan Kitab Primer dalam Agama Islam—meliputi aspek ajaran, keilmuan, sejarah, dan lain sebagainya—tentunya mendapatkan respon yang sangat beragam dari pembacanya guna menangkap makna agung yang terkandung di dalamnya. Beberapa diskursus keilmuan pun bermunculan dari kitab tersebut, mulai dari Kalam, Fiqh, Tafsir, hingga beberapa keilmuan kebahasaan yang tidak mengandung doktrin keagamaan. Dalam artian, kajian kebahasaan yang muncul dari Al-Qur’an—semisal Nahwu, Balaghah, Sharaf, dan lain sebagainya—dapat digunakan dalam menganilisis teks-teks bahasa Arab lainnya yang tidak ada korelasinya dengan Ajaran Islam.

Salah satu diantaranya ialah Ilm Gharīb al-Qur’ān, yakni ilmu yang membahas tentang makna kata perkata dari susunan ayat al-Qur’an. Dan dalam catatan singkat ini akan diuraikan makna dari kata Talā-Yatlū, baik dari sisi tinjauan makna asal, ataupun makna-makna bentukan darinya (isytiqāq / derivasi).

  1. B. Pembahasan
    1. 1. Makna Asal

Kata Talā-Yatlū memiliki makna asal “mengikuti” (Tabi’a), akar katanya tuluwwun atau tilwun, baik mengikuti gerakan, maupun mengikuti petunjuk yang diberikan.[1] Selanjutnya kata ini dipakaikan untuk makna membaca dan juga tadabbur al-ma’na (meresapi makna) dari sebuah bacaan, dan akar kata—dari lafadz Talā-Yatlū—yang bermakna demikian ini (makna kedua) ialah al-Tilāwah.[2]

Adapun dalam Lisān al-‘Arab, kata ini memiliki beberapa makna dasar, diantaranya meninggalkan, membelakangi, menelantarkan, mengikuti dan mendahului.[3] Atlaitu Fulān bermakna Taqaddamtuhu (mendahuluinya) dan menjadikannya di belakangku.

  1. 2. Makna Derivasi
    1. استتلي, bermakna menunggu

استَتْلَيْت فلاناً أَي انتظرته[4]

Lafadz ini mengikuti wazan Istaf’ala yang berfaedah li al-Thalāb (mengharap). Kemudian jika dikaitkan dengan makna asal, yaitu mengikuti, maka terdapat relasi makna, yakni mengharap untuk diikuti. Karena pada dasarnya, ketika kita menunggu seseorang berarti kita berharap agar ia mengikuti kita, atau dengan kata lain berharap agar ia mengikuti jejak kita pada suatu tempat tertentu. Adapun jika dihubungkan dengan makna asal “meningalkan atau menelantarkan”, maka keterkaitan makna antara menunggu dengan makna asal ialah: suatu proses penantian disebabkan seseorang telah mendahuluinya, atau sampai pada suatu tempat lebih awal daripada yang ditunggu. Sehingga ada kesamaan “mendahului” antara meninggalkan dan menunggu.

  1. المتْلية والمتْلي

Kata ini bermakna sesuatu yang dilahirkan terakhir kalinya, atau “anak bungsu”. Bermakna demikian karena anak terakhir tersebut mengikuti jejak anak pertama (al-Mubakkirah). Dalam artian anak tersebut lahir setelah proses kelahiran anak sebelumnya. Ada juga pendapat yang mengatakan, kata ini merujuk pada makna sesuatu yang memberatkan, atau kepala yang tertutup karena dosa dan rasa malu. Dan disebutkan dalam Lisān al-‘Arab, inilah makna derivasi yang sama sekali tidak ada kesesuaiannya dengan makna asalnya.[5]

  1. c. المتالي

Makna kata ini ialah Para ibu (Ummahāt jamak dari Umm). Jika ditelisik relasi makna antara makna kata ini (ibu) dengan makna asal lafadz Talā-Yatlū yang berarti mengikuti, maka dapat ditarik satu kesamaan. Karena pada hakikatnya, Ibu ialah orang yang diikuti oleh anaknya, baik secara genetis maupun secara tingkah laku. Namun menurut al-Bahiliy, kata ini juga bermakna unta yang dilahirkan sebagian, dan sebagian yang lainnya tidak. Hemat penulis yang dimaksudkan dari kalimat ini ialah unta yang lahir mendahului saudaranya yang masih terdapat dalam kandungan ibunya[6]

  1. تَلَّى

Lafadz ini bermakna melaksanakan pekerjaan setelah melakukan pekerjaan lain, berturut-turut. Seperti dalam contoh:

تَلَّى فلان صلاته المكتوبة بالتطوع[7]

  1. التلاوة

Kata ini dikhususkan pada Ittibā terhadap Kitāb Allāh, baik itu dengan membaca, maupun dengan mengamalkan—dengan menjalankan perintah-perintah yang, dan menjauhi larangan-larangan terkandung di dalamnya.[8] Karena membaca pun juga memiliki keterkaitan makna dengan makna asal—mengikuti—, maksudnya membaca pada dasarnya mengikuti (dan juga merangkaikan kata-perkata) dari apa yang dibaca.[9]

}وإذا تتلى عليهم آياتنا{ [الأنفال/31][10]

}وإذا تليت عليهم آياته زادته إيمانا{ [الأنفال/2][11]

  1. 3. Variasi Makna yang digunaan dalam al-Qur’an

Berdasarkan pencarian pribadi penulis, lafadz Yatlū dalam al-Qur’an terdapat tujuh lafadz, enam diantaranya (al-Baqarah: 129, 151, Ali Imran: 164, al-Qashash: 59, al-Jum’ah: 2, al-Thalaq: 11) selalu diiringi oleh Āyāt (Āyātinā, Āyātihi, Āyātika, Āyāt Allāh) sebagai objek dari lafadz tersebut. Adapun satu ayat lainnya memiliki objek Shuhuf Muthahharah (al-Bayyinah: 2). Dan kesemuanya memiliki subjek yang sama, yakni Rasul. Sedangkan lafadz Tatlū terdapat dalam empat ayat. Adapun dalam kitab Fath al-Rahmān, dalam al-Qur’an lafadz Talā beserta derivasinya terdapat 62 lafadz, baik dalam bentuk madli, mudlari’, maupun amarnya.[12] Adapun mengenai beberapa maknanya—untuk tidak mengatakan cakupan semua makna—adalah sebagai berikut:

  1. Mengiringi

ħ÷K¤±9$#ur $yg8ptéÏur ÇÊÈ ÌyJs)ø9$#ur #sŒÎ) $yg9n=s? ÇËÈ [13]

Dalam ayat ini Talā bermakna mengiringi, dengan artian bulan mengiringi matahari karena tidak dapat memancarkan cahaya dengan sendirinya. Bulan hanya bisa memberikan cahaya dengan memantulkan cahaya matahari.[14] Hal ini juga diperkuat dengan ayat:

}جعل الشمس ضياء والقمر نورا{ [يونس/5][15]

  1. Membaca

}واتل ما أوحي إليك من كتاب ربك{ [الكهف/27][16]

Ayat ini menggunakan redaksi Talā dalam bentuk Fi’l Amr, yakni bermakna perintah. Dan dalam ayat ini, lafadz Talā bermakna membaca,[17] atau dalam fi’l amr bermakna “bacalah”/ “bacakanlah”.

  1. Mengikuti (bacaan) dengan Ilmu dan Amal

}يتلونه حق تلاوته{ [البقرة/121][18]

Al-Raghib menyebutkan makna Talā dalam ayat ini ialah mengikuti dengan ilmu dan amal,[19] namun tetap dalam batasan objek yang diikuti ialah bacaan—al-Qur’an—seperti yang diuraikan sebelumnya. Akan tetapi terdapat sedikit perbedaan pemaknaan dalam ayat ini. Ibn Mas’ud berpendapat: Ayat ini bermakna membaca sesuai dengan apa yang diturunkan, dengan tidak merubah redaksi (dari sisi Qirā’ah) dan juga substansi (tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal). Sedangkan menurut al-Hasan: Mengamalkan yang Muhkām, mengimani yang Mutasyābih, serta menggali makna yang tidak ia ketahui. Dan pendapat terakhir dari Mujahid yang hampir sama dengan pendapat al-Raghib: Mengikuti dengan sungguh-sungguh (Haqq al-Tibā’ih).[20]

  1. Menurunkan

}ذلك نتلوه عليك من الآيات والذكر الحكيم{ [آل عمران/58]

Kembali menurut al-Raghib yang menyatakan bahwasannya makna Natlūhu dalam ayat ini ialah “Menurunkan”. Adapun menurut al-Razi, lafadz Natlūhu dalam ayat ini bermakna Naqushshuhu (menceriterakan). Menurut beliau, al-Tilāwah dengan al-Qashash bermakna satu. Hal ini didasarkan pada analisis beliau mengenai dua ayat yang menggunakan lafadz Natlū yang memiliki objek “Naba” (ceritra), dan juga lafadz Naqushshu yang memiliki objek al-Qashash itu sendiri.[21]

  1. Mengabarkan

}واتبعوا ما تتلو الشياطين على ملك سليمان{ [البقرة/102][22]

Al-Razi menyebutkan, lafad Tatlū dalam ayat ini memiliki dua wajh. Pertama, bermakna mengabarkan (mewartakan). Kedua, mendustakan (memberikan kabar bohong tentang kerajaan Sulaiman as.). Kemudian al-Razi memberikan pendapatnya bahwa makna yang pertama lebih unggul, karena hakikat dari mendustakan ialah tetap dalam batasan memberikan kabar (menginformasikan), terlepas dari kabar tersebut benar atau pun salah.[23]

  1. C. Penutup

Dari sedikit uraian di atas, kita dapat mengetahui betapa luasnya cakupan makna dari tiap-tiap lafadz al-Qur’an, baik itu makna yang dipakai oleh al-Qur’an itu sendiri, maupun makna lain di luar al-Qur’an. Sehingga kajian terhadap makna al-Qur’an memerlukan kajian yang sangat mendalam. Dan tentunya tulisan singkat ini bukanlah kajian akhir dari sebuah lafadz al-Qur’an, dan pastinya juga terdapat banyak kekurangan, baik dari sisi pemahaman penulis terhadap sumber asli, kesalahan penyampaian, kurang lengkapnya data yang disampaikan, maupun kedangkalan analisis penulis sendiri. Diharapkan kritik serta saran guna perbaikan penulis secara pribadi ke depan, juga bagi diskursus ke-Islam-an secara general.

Wallahu A’lam bi al-Shawab


[1] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.th), hlm. 75. Lihat juga: Achmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 138.

[2] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[3] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 102.

[4] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, hlm. 102.

[5] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, hlm. 102

[6] Ibn Mandzur, Lisān al-‘Arab Juz XIV, hlm. 102.

[7] Al-Azhari, Tahdzib al-Lughah Juz V, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 21.

[8] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[9] Al-Azhari, Tahdzib al-Lughah Juz V, hlm. 21.

[10] Terjemahannya: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami,….”

[11] Terjemahannya: “…..dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya),,,”

[12] Al-Hasaniy, Fath al-Rahmān, (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th) hlm. 70-71.

[13] Al-Syams [91]: 1-2 yang artinya: 1.  Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, 2.  Dan bulan apabila mengiringinya,

[14] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[15] Terjemahan: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya….”, antara al-Dliyā dan al-Nūr terdapat perbedaan, yakni al-Dliyā memiliki kekuatan cahaya lebih tinggi daripada al-Nūr, dan kemudian diartikan bahwa bulan hanya memantulkan cahaya dari matahari yang dapat bersinar dengan sendirinya. Lihat: Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75.

[16] Terjemahan: Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al Quran).

[17] Al-Khazin, Lubāb al-Ta’wil fi Ma’ān al-Tanzil Juz IV, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 308.

[18] Terjemahan: Orang-orang yang Telah kami turunkan Al Kitab kepadanya,

[19] Al-Raghib al-Asfihani, al-Mufradat fi Gharib,,, hlm. 75

[20] Al-Baghawi, Ma’ālim al-Tanzil Juz I, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 144.

[21] Fakhr al-Din Al-Razi, Mafātih al-Ghaib Juz IV, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 233.

[22] Terjemahan: Dan mereka mengikuti apa yang diberitakan (dibacakan) oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir),

[23] Fakhr al-Din Al-Razi, Mafātih al-Ghaib Juz II, dalam CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, (Pustaka Ridwana: 2000), hlm. 250.



Telah jadi permasalahan klasik tentang perbedebatan qunut di dalam shalat, baik shalat shubuh, witr, dan shalat-shalat lain. Namun yang jadi permasalahan pokok ialah qunut dalam shalat shubuh, bahkan dalam konteks keislaman Indonesia, hal ini merupakan salah satu tema besar yang menjadi alasan perpecahan sebagian kelompok. Berangkat dari fenomena inilah penulis merasa tertarik untuk membahas tema ini dalam kajian Nasikh-Mansukh fi al-Hadits.

1.1  Hadits-hadits pendukung adanya Qunut dalam shalat al-Fajr (Shubuh)

Bukhari no. 946 (CD. ROM Mausu’ah)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ قَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ قَالَ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

Muslim no. 1083 (CD. ROM Mausu’ah)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا وَاللَّهِ لَأُقَرِّبَنَّ بِكُمْ صَلَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ وَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ

Muslim no. 1093 (CD. ROM Mausu’ah)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي لَيْلَى قَالَ حَدَّثَنَا الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ

1.2  Hadis-hadis yang kontradiktif

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ خَلَفٍ وَهُوَ ابْنُ خَلِيفَةَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا بِدْعَةٌ

2.1 Penarapan metode

2.1.1 Qunut telah dinasakh

Dalam pembahasan ini terdapat banyak pendapat, pendapat yang pertama menyatakan bahwasannya Hadis yang meniadakan qunut ini adalah hadits yang menasakh hadits-hadits yang pertama. Karena datangnya setelah Hadis-hadis yang menyatakan bahwasannya Rasulullah qunut dalam shalat shubuh dan maghrib. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abi Bakr Ahmad bin Muhammad bin Hani’ al-Atsram dalam kitabnya “Nasikh al-Hadits wa Mansukhuhu”. Beliau juga memperkuat pendapatnya dengan pernyataan :

“Rasulullah hanya Qunut ketika mendoakan suatu kaum, dan tidak melaksanakannya secara kontinyu.”

Dan Hadits terakhir yang dijadikan argumen:

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ أَخْبَرَنِي قَتَادَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ

Jadi lafadz “Tarakahu” disini menjadikan kekuatan adanya penasakhan, karena secara literal, lafadz tersebut bermakna “kemudian Rasulullah meninggalkan Qunut tersebut.

Beliau menambahkan dengan hujjah amal al-Aimmah (Khulafa’ al-Rasyidin), Abu Bakar melaksanakan Qunut ketika mendoakan ahl al-riddah, Umar ketika mendoakan ahl al-faris, dan Ali pada saat terjadi peperangan, dengan kata lain para Khulafa’ al-Rasyidin tidak melaksanakannya secara mudawamah (hanya qunut Nazilah saja).

Tidak hanya itu, beliau juga melakukan upaya pentarjihan, yaitu dengan menyandingkan hadits terkahir dengan hadits dla’if yang diriwayatkan anas bin Malik dalam musnad Ahmad no. 3/162:

أن النبيّ لم يزل يقنت حتى مات

Pengarang kitab tersebut adalah penganut madzhab Imam Hanbal, seperti yang telah kita ketahui bahwa Imam Hanbal tidak mengkategorikan Qunut sebagai sunnah dalam Shalat. Jadi sangatlah wajar jika hasil dari ijtihadnya qunut telah dinasakh (Mansukh).

2.1.2 Qunut telah menasakh ketiadaannya.

Pendapat yang kedua dikemukakan oleh Abu Hafsh Umar bin Ahmad bin Utsman bin Syahin dalam karyanya “Nasikh al-Hadits wa Mansukhuhu”. Kitab ini memliki kesamaan nama dengan kitab karya Ibn al-Atsram pada point sebelumnya.

حدثنا احمد بن محمد بن مغلس قال حدثنا الحسين بن علي بن يزيد الصدائي وحدثني محمد بن القاسم الشطوي قال حدثنا احمد بن الخليل قالا حدثنا محمد بن يعلي يلقب زنبور قال حدثنا عنبسة بن عبد الرحمن عن عبد الله بن نافع عن ابيه عن ام سلمة قالت نهى رسول الله صلي الله عليه وسلم عن القنوت في الفجر

Secara eksplisit Hadits ini menyatakan bahwasannya Qunut dalam Shalat al-Fajr (Shubuh) telah dilarang oleh Rasulullah saw. Namun Ibn Syahin berpendapat Hadits ini telah dihapus (Mansukh) dengan Hadits yang datang dari Anas ibn Malik :

عن ابو جعفر الرازي عن الربيع عن انس بن مالك ان رسول الله صلي الله عليه وسلم قنت في صلاة الغداة حتى مات

Menurut beliau (Ibn Syahin), Hadits yang melarang Qunut dalam shalat Shubuh adalah Hadits Gharib, dan juga tidak diketahuinya rawi yang bernama Anbatsah. Sedangkan Hadits yang diriwayatkan oleh Anas tersebut menasakh hadits yang pertama dan juga hadits-hadits lain yang sependapat. Beliau juga berpijak pada Amal Ahl al-Madinah yang melaksanakan Qunut secara Mudawamah. Dari Amal ahl al-Madinah ini beliau menyimpulkan bahwa Hadits terakhir yang dapat menasakh, karena Hadits itulah yang digunakan oleh ahl al-Madinah. Untuk lebih menguatkan argumennya, beliau juga menambahkan pendapat dari Ibn Abi Dza’b :

“Qunut ialah perintah yang berlaku di negara ini (Madinah) sejak Islam itu ada”. Untuk menghindari kasalahan penterjemahan, berikut teks aslinya :

هو (القنوت )الامر بهذا البلد منذ كان الاسلام

Pendapat yang selaras juga dikemukakan oleh Abu al-Zanad, Ibn Harmaz, dan juga Sufyan al-Tsauri. Dalam keterangannya, beliau juga menambahkan, Madzhab Imam Malik—dalam hal ini sebagai Ulama Madinah—juga menyatakan bahwa Qunut hukumnya sunnah, namun perbedaannya dengan Al-Syafi’i, Imam Malik melaksanakannya sebelum Ruku’.

Catatan: Dalam kitab ini, hadits yang menasakh ialah hadits yang dianggap dla’if oleh al-Atsram dalam kitabnya “Nasikh al-Hadits wa Mansukhuhu” di atas. Namun disini penulis menawarkan sebuah hadits lain yang terdapat dalam sunan al-Tirmidzi yang juga disertai pendapat beberapa Ulama untuk jadi bahan pertimbangan :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي يَا أَبَةِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ هَا هُنَا بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ قَالَ أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ و قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ وَاخْتَارَ أَنْ لَا يَقْنُتَ وَلَمْ يَرَ ابْنُ الْمُبَارَكِ الْقُنُوتَ فِي الْفَجْرِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَأَبُو مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ اسْمُهُ سَعْدُ بْنُ طَارِقِ بْنِ أَشْيَمَ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ بِمَعْنَاهُ

2.1.3 Analisis Imam Al-Syafi’i

Dalam pembahasan ini, penulis mencoba menghadirkan pendapat yang berbeda dari keduanya, yakni pendapat Imam al-Syafi’i dalam kitabnya Ikhtilaf al-Hadits.

Dalam awal pembahasannya, beliau menghadirkan Hadits yang membahas tentang Qunut yang dilaksanakan pada perang Ahl Bi’r Ma’unah. Perang tersebut berlangsung selama lima belas malam (hari), dan ada juga pendapat yang menyatakan satu bulan. Dan selama itu pula Rasulullah melaksanakan Qunut dalam setiap Shalat. Dan setelah perang itu usai, Rasulullah meninggalkannya. Menurut Imam al-Syafi’i, Rasulullah meninggalkan Qunut selain  shalat shubuh, dan tetap menjalankannya pada waktu shubuh.

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ أَخْبَرَنِي قَتَادَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ

“Syahr” dalam hadits tersebut ialah masa perang Ahl Bi’r Ma’unah, membaca doa Qunut dalam setiap shalatnya, kemudian meninggalkannya (Tarakahu) dalam empat shalat lainnya selain shalat shubuh. Adapun hukum Qunut selain shalat shubuh menurut Imam Al-Syafi’i ialah Mubah, seperti halnya membaca bacaan doa-doa dalam shalat. Status Hadits yang mengandung lafadz Tarakahu tersebut bukanlah sebagai Nasikh. Tapi lebih tepatnya Imam Syafi’i berpendapat, metode yang dapat diambil ialah al-Jam’u wa al-Taufiq.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ قَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ قَالَ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

Menurut Syafi’i, hadits-hadits yang menyatakan adanya Qunut ialah pasca perang Ahl Bi’r Ma’unah, karena sebelumnya Nabi saw tidak pernah membaca doa Qunut. Dan hadits di atas sebagai penguat bahwasannya Rasulullah masih memabaca Qunut dalam shalat shubuh pasca perang tersebut.

3. Simpulan dan penutup

Dari uraian ringkas di atas, dapat kita ketahui banyaknya perbedaan pendapat tentang hadits Qunut ini. Tidak hanya mengenai matan Hadits itu sendiri, tapi juga mengenai perbedaan pendapat ketika menempatkan hadits-hadits tersebut, mana yang Nasikh dan mana yang Mansukh. Dan juga adanya pebedaan pendapat mengenai penerapan metode, ada yang menganggapnya sebagai kajian nasikh mansukh, ada yang rajih-marjuh, dan juga ada yang al-Jam’u wa al-Taufiq. Semuanya sama-sama menggunakan argumen yang kuat. Jadi, sudah seyogyanya kita sebagai pengkaji hadits untuk membaca lebih cerdas lagi perbedaan-perbedaan tersebut. Sangat ironis sekali jika diantara kita masih saling memperdebatkan siapakah yang paling benar antara yang memakai qunut dan yang tidak. Namun sebagai pemula, tentu analisis yang disajikan penulis kurang begitu tajam, sehingga membutuhkan banyak koreksi dari pembaca. Semoga bermanfaat untuk Islam Indonesia, Amin.

Doa dalam Al-Qur’an

Posted: November 30, 2010 in Kajian al-Qur'an

A. Pendahuluan

Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang lemah, sehingga manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya secara mandiri. Adakalanya manusia harus berinteraksi dengan sesama guna melengkapi kebutuhan-kebutuhan tersebut, karena manusia juga makhluk sosial. Namun seiring meningkatnya kebutuhan, manusia tidak hanya membutuhkan bantuan dari sesama manusia, karena ada beberapa kebutuhan yang tidak mungkin dipenuhi oleh sesama manusia. Hal ini menyebabkan manusia kembali pada Dzat yang telah menciptakannya, yaitu dengan jalan berdoa. Bahkan untuk hal-hal yang mungkin didapatkannya dengan jalan meminta bantuan kepada sesama makhluk pun manusia tetap memintakannya kepada Dzat Maha Pemberi.

Dalam ajaran Islam doa menempati posisi penting, dan tidak hanya digunakan untuk meminta kebutuhan hidup semata, melainkan sebagai sarana berinteraksi dengan Allah dan juga sarana beribadah. Akan tetapi doa dalam perspektif sebagian aliran tasawuf dianggap kurang baik, karena dinilai kurang mensyukuri akan nikmat yang Allah berikan terhadapnya.[1] Terlepas dari itu semua manusia tetaplah membutuhkan adanya interaksi dengan Tuhannya, karena menurut Molinowski dalam analisisnya mengenai manusia, bahwa manusia membutuhkan interaksi dengan Tuhannya guna memenuhi kebutuhan spiritualitasnya (ruhaniah).[2] Baik itu dari agama Islam, Yahudi, Nashrani, bahkan Atheis pun sebenarnya mengakui adanya kekuatan lain di luar diri meraka, namun mereka enggan menyebutnya sebagai Tuhan.

Disini akan diuraikan pembahasan tentang doa yang terdapat dalam al-Qur’an, baik secara definisi maupun pembagian-pembagiannya. Dan penulis hanya bisa berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

B. Definisi

Al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Agama Islam, sehingga seluruh pembahasan ayatnya merupakan sesuatu yang urgen dalam Islam.  Begitu juga halnya pembahasan mengenai Doa, banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang Doa, dan juga mempunyai banyak arti yang berbeda. Dalam ayat yang sama pun Ulama banyak yang berbeda dalam menafsirkan kata Doa itu sendiri. Disini penulis akan mencoba menguraikan makna doa dari segi bahasa dan juga pendapat beberapa Ulama mengenai definisi dari Doa.

Apabila dilihat dari asal suku katanya, Doa bentuk mashdar dari kata Da’a – Yad’u ) (دعا- يدعوyang bermakna memanggil atau mengundang.[3] Kata ini juga memiliki beberapa variasi mashdar, diantaranya: da’wan, da’wah, dan da’wa.[4] Sedangkan menurut Imam Muhammad Ibn Mukarram Ibn Mandzhur dalam kamusnya Lisan al-‘Arab beliau menjelaskan bahwasannya makna lafadz الدّعاء dapat berarti suara, seperti bunyi حِئ حِئْ mempunyai makna suara keledai[5] dan juga bunyi  الجِيءُ والجَيءbermakna suara unta.[6]

Arti etimologi lainnya, doa dapat bermakna memohon, minta diambilkan (sesuatu), membutuhkan, menuturkan kebaikan mayat, minta tolong, menyukai, mencari kebaikan (untuk prang lain), menisbatkan (kepada orang lain), mengajak dan mendorong (untuk melakukan sesuatu), dan menggiring.[7]

Dalam kamus Al-Muhith Doa bermakna :

و الدُّعاءُ الرَّغْبَةُ إلى الله تعالى.[8]

Doa adalah rasa Cinta kepada Allah swt.

Definsi umum doa yang masyhur di kalangan ahli Ushul dan Fiqh adalah :

الدّعاء هو طلبُ الفعل من الأدنى إلى الأعلى ، فالدّعاء نوع من السّؤال.[9]

Doa ialah tuntutan perbuatan (baca : perintah) dari derajat yang rendah kepada derajat yang lebih tinggi, maka doa adalah salah satu bentuk dari permintaan.

Secara Terminologi lafadz doa ini sebenarnya sama halnya dengan Amr (perintah), hanya saja dalam doa pemakaian bahasanya lebih sopan, karena ditujukan kepada derajat yang lebih tinggi[10], atau biasa disebut dengan permohonan. Sedangkan Rasulullah saw mendefinisikan Doa sebagai bentuk dari Ibadah. Seperti dalam Haditsnya yang dikutip dari Riyadl al-Shalihin.

وعن النعمان بن بشيرٍ، رضي الله عنهما، عن النّبي، صلى الله عليه وسلم، قال: الدّعاءُ هو العبادة.

)رواه أبو داود، والترمذي، وقال: حديثٌ حسنٌ صحيح   [11](

Dari Nu’man ibn Basyir RA, dari Nabi saw bersabda : Doa adalah Ibadah. (HR. Abu Daud, dan Tirmidzi, dan dia berkata : Hadits Hasan Shahih).

  1. C. Doa Dalam Al-Qur’an

Dalam pembahasan point ini akan diuraikan mengenai lafadz-lafadz doa yang terdapat dalam al-Qur’an dan implikasi maknanya, kemudian akan dipaparkan juga tafsir-tafsir Ulama klasik dalam surat al-Baqarah ayat 186 beserta asbab al-Nuzul-nya.

  1. 1. Lafadz-lafadz doa di dalam al-Qur’an

Kata Da’a-Yad’u dalam al-Qur’an beserta derivasinya (isytiqaq) disebutkan sebanyak 213 kali dalam 55 surat, yaitu al-Baqarah [2]: 23, 61, 68, 69, 70, 171, 186, 221, 226, 260, 282, Ali Imram [3]: 23, 38, 48, 61, 104, 153, al-Nisa’ [4]: 117, al-An’am [6]: 40, 41, 52, 56, 63, 71, 107, al-A’raf [7]: 5, 29, 37, 55, 56, 134, 180, 189, 193, 194, 195, 197, 198, al-Anfal [8]: 24, Yunus [10]: 10, 12, 22, 25, 38, 66, 89, 106, Hud [11]: 13, 62, 101, Yusuf [12]: 8, 33, al-Ra’d [13]: 14, 36, Ibrahim [14]: 9, 10, 22, 39, 40, 44, al-Nahl [16]: 20, 25, 86, al-Isra’ [17]: 11, 52, 56, 57, 67, 71, 110, al-Kahfi [18]: 14, 28, 53, 57, Maryam [19]: 4, 47, 48, 91, Thaha [20]: 108, al-Anbiya’ [21]: 15, 45, 90, al-Hajj [22]: 12, 13, 62, 67, 73, al-Mu’minun [23]: 73, 117, al-Nur [24]: 48, 51, 63, al-Furqan [25]: 13, 14, 68, 77, al-Syu’ara’ [26]: 72, 213, al-Naml [27]: 62, 80, al-Qashash [28]: 25, 41, 64, 87, 88, al-‘Ankabut [29]: 42, 65, al-Rum [30]: 25, 33, 52, Luqman [31]: 21, 30, 32, al-Sajdah [32]: 16, al-Ahzab [33]: 4, 5, 37, 46, 53, Saba’ [34]: 221, Fathir [35]: 6, 13, 14, 18, 40, Yasin [36]: 57, al-Shaffat [37]: 125, Shad [38]: 51, al-Zumar [39]: 8, 38, 43, 49, Ghafir [40]: 10, 12, 14, 20, 26, 41, 42, 43, 49, 51, al-Syura [42]: 13, 15, al-Zukhruf [43]: 49, 86, al-Dukkhan [44]: 22, 55, al-Jatsiyah [45]: 28, al-Ahqaf [46]: 4, 5, 31, 32, Muhammad [47]: 35, 38, al-Fath [ 49]: 16, al-Thur [52]: 28, al-Qamar [54]: 6, 8, 10, al-Hadid [57]: 8, al-Shaf [61]: 7, al-Mulk [67]: 27, al-Qalam [68]: 42, 43, al-Ma’arij [70]: 17, Nuh [71]: 5, 6, 7, 8, al-Jin [72]: 18, 19, 20, al-Insyiqaq [84]: 11, dan al-‘Alaq [96]: 17, 18.[12] Adapun mengenai bentuk lafadz da’a yang dipakai dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut :

  • Menggunakan Fi’il Madli dari Lafadz دعا (baik bentuk mufrad maupun jamak):

QS. Yunus[10] : 12

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا…

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri………………….

QS. Yunus [10] : 22

دَعَوُا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ……

……….Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”.

  • Menggunakan Fi’il Mudlari’ (baik mufrad atau jamak, ghaib, mukhatab ataupun mutakallim)

QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 90

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ……. ÇÒÉÈ

…………..Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas…………..

QS. Al-An’am [6] : 41

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ…..

(Tidak), tetapi Hanya kepadanyalah kamu bedoa, Maka dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadanya……………….

QS. Al-Israa’ [17] : 11

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًاÇÊÊÈ

Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

  • Menggunakan mashdar (baik mashdar berupa Da’wah maupun ad-Du’a’)

QS. Ar-Ra’d [13] : 14

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقّÈ ( ……………..

Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar………….

QS. Ibrahim [14] : 39

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِÇÌÒÈ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.

  • Menggunakan Fi’il Amar (Perintah berdoa oleh Allah swt kepada Hambanya)

QS. Al-A’raf [7] : 55

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَÇÎÎÈ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

  • Menggnunakan Lafadz lain, yang bukan bentukan dari Da’a –Yad’u (دعا-يدعو)

Doa yang bermakna permohonan dalam al-Qur’an tidak hanya disebutkan menggunakan lafadz (دعا-يدعو) , terkadang menggunakan lafadz الصلاة , dan terkadang juga menggunakan lafadz (ناى – ينادى) seperti pada QS. At-Taubah (9) : 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ÇÊÉÌÈ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan[13] mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

dan QS. Al-Anbiyaa’[21] : 89

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَÇÑÒÈ

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia berdoa kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan Aku hidup seorang diri[14] dan Engkaulah waris yang paling Baik.

Analisis mengenai makna doa yang terkandung dalam al-Qur’an yang dilakukan oleh penulis, bahwasannya makna doa dapat terkandung pada ayat-ayat yang terdapat lafadz  قال maupun derivasi kata darinya يقول , dan setelahnya diikuti oleh sebuah kalimat permohonan yang ditujukan kepada Allah (atau diikuti oleh lafadz-lafadz ربّ – اللهم ). Meskipun tidak secara eksplisit terdapat lafadz دعا – يد عو , makna Qaala disitu tidak lagi bermakna berucap, melainkan bemakna berdoa, seperti dalam ayat-ayat berikut ini :

QS. Al-Qashash [28] : 16

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُÇÊÏÈ

Musa berdoa: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah menganiaya diriku sendiri Karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan QS. Al-Baqarah [2] : 201

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  ÇËÉÊÈ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Pendapat ini dapat saja dilemahkan oleh lafadz doa yang terdapat pada QS. Ghafir [40] ayat 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ  ÇÏÉÈ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[15] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Dalam ayat tersebut, setelah lafadz Qaala diikuti kalimat permohonan yang memakai bentuk perintah, namun penulis berpandapat bahwa lafadz Qaala dalam QS. Al-Mu’min: 60 ini tidak mengandung makna berdoa, karena lafadz setelahnya meupakan bentuk permohonan dari derajat yang lebih tinggi kepada derajat yang lebih rendah (perintah / Amr ), maka makna Qaala dalam ayat ini kembali ke asal maknanya, yakni berkata (Berfirman).

 

  1. 2. Variasi makna Doa dalam al-Qur’an

Dalam al-Qur’an, makna term “Doa” ini terkadang juga memiliki arti yang berbeda sesuai konteks kalimatnya. Berikut akan diuraikan makna-makna lafadz Doa yang terdapat dalam al-Qur’an.

a) Ibadah

Pengertian doa sebagai Ibadah ini merupakan pengertian pokok dari lafadz doa itu sendiri. Karena sejatinya manusia sebagai makhluk ciptaan Allah memiliki rasa kehambaan terhadap-Nya tatkala ia berdoa, dengan kata lain hamba tersebut mengakui akan keterbatasannya serta mengagungkan Dzat yang telah menciptakannya itu dengan media berdoa.[16] Sehinga dapat menunjukkan adanya suatu perbedaan tingkatan antara yang menyembah dengan yang disembah. Doa dalam pengertian ini merupakan definisi yang diberikan oleh Rasulullah sendiri pada pembahasan sebelumnya.

Doa bermakna ibadah ini, diantaranya terdapat dalam surat Al-A’raf: 194.

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru (sembah) selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka Seru (sembah)lah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.

Lafadz tad’una pada ayat ini bermakna ibadah (menyembah).[17] Dimaksudkan beribadah karena menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai tuhan selain Allah swt. Namun dalam tafsirnya tersebut, al-Alusiy berpendapat bahwa tad’una dalam ayat ini memiliki dua kemungkinan makna, yakni yang pertama menyembah/ beribadah, dan yang kedua ialah tasmiyyah (penamaan/ memberi nama). Maksudnya menamakan berhala-berhala tersebut sebagai Tuhan. Namun makna tad’una dalam ayat ini menurut kebanyakan Ulama (Mufassir) ialah beribadah (menyembah).

b) Permohonan

Doa bermakna permohonan ini terkait dengan tujuan seorang hamba dalam melafalkan doa tersebut kepada Tuhannya. Karena seorang hamba membutuhkan sesuatu yang dikehendakinya dengan media doa ini. Sehingga salah satu urgensi doa selain untuk beribadah ialah memohon sesuatu kepada Dzat yang Maha Mendengar doa hamba-hambanya. Doa dalam pengertian ini seperti tedapat dalam  QS. Al-An’am [6] : 41

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ…..

(Tidak), tetapi Hanya kepadanyalah kamu bedoa, Maka dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadanya……………….

c) Istighatsah (meminta pertolongan)

Pada dasarnya makna doa ini (meminta pertolongan) tidak jauh berbeda dengan point sebelumnya, yakni permohonan. Hanya saja doa jika bermakna permohonan bersifat lebih umum daripada meminta pertolongan. Doa dengan makna meminta pertolongan terdapat dalam surat al-Qashshash [28]: 64

وَقِيلَ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَرَأَوُا الْعَذَابَ لَوْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَهْتَدُونَ

Dikatakan (kepada mereka) “Minta tolonglah kamu sekalian kepada sekutu-sekutu kamu”, lalu mereka meminta pertolongan kepadanya (sekutu-sekutu mereka), Maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (permintaan) mereka, dan mereka melihat azab. (mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk.

d) Nida’ (panggilan)

Jika sebelumnya terdapat lafadz Nada (memiliki makna asli memanggil) yang dapat bermakna da’a (memohon), maka dalam al-Qur’an juga terdapat sebaliknya, yakni menggunakan redaksi da’a-yad’u tapi memiliki arti nada-yunadi (memanggil). Namun pada hakikatnya, dua kata tesebut memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena kecenderungan Doa juga menggunakan Adat al-Nida’, yang dimaksudkan untuk memanggil Dzat yang sedang dimintai permohonan, yakni Yaa Allah, Allahumma, Yaa Rabbi, dan lain sebagainya.[18] Diantara ayat yang mengandung lafadz Du’a yang memiliki arti memanggil ialah QS. Al-Rum [30]: 25.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

Namun dalam ayat ini tidak ada kaitannya dengan permohonan, dengan kata lain mutlak merupakan panggilan. Hal ini dikarenakan panggilan tersebut ditujukan kepada yang lebih rendah dari yang lebih tinggi, Allah kepada makhluk.

e) Dakwah

Dalam surat Nuh diceritakan, bahwa setelah Nabi Nuh mencurahkan segenap daya dan upaya dalam berdakwah kepada kaumnya untuk menyemmbah Allah san mengesakan-Nya. Akan tetapi kaum tidak simpati kepadanya bahkan mencelanya dan menghinakannya. Maka Nabi Nuh mengadu kepada Allah swt.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7) ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارً (8)

Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang,  Maka dakwahku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru(berdakwah kepada)  mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian Sesungguhnya Aku Telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan.

Lafadz doa dalam ayat ini bermakna dakwah, yakni ajakan untuk merubah dari kondisi kebatilan menuju kondisi kebenaran dan keimanan kepada Allah swt.[19]

f) Seruan/ Ajakan

Hampir sama dengan makna-makna doa sebelumnya, seruan atau ajakan ini sudah terkover secara umum pada pemaknaan doa sebagai dakwah ataupun panggilan. Namun letak perbedaannya, seruan ini bisa ditujukan oleh hamba kepada Tuhannya (karena dalam doa itu menyeru kepada Tuhannya untuk mengkabulkan apa yang ia minta) maupun juga dari Allah kepada hambanya yang berupa perintah.

  1. 3. Macam-macam Doa yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits

Imam Sa’id bin Ali bin Wahab al-Qahthani telah mengumpulkan lafaz-lafaz doa yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau berhasil mengumpulkan 122 contoh lafaz doa dan 43 di antaranya berasal dari Al-Qur’an, seperti:

  1. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين (الأعراف : 23(
  2. رب إني أعوذ بك أن أسألك ما ليس لي به علم وإلا تغفر لي وترحمني أكن من الخاسرين ) هود: 47(
  3. رب اغفر لي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات ) نوح : 28(
  4. ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم ) البقرة :127 ، 128(
  5. رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء ) إبراهيم : 40(
  6. اللهم إني أعوذ بك من العجز والكسل ، والجبن والهرم والبخل ، وأعوذ بك من عذاب القبر ، ومن فتنة المحيا والممات  (البخاري 7 / 59 ، ومسلم 4 / 2079)
  7. اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري ، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي ، وأصلح لي آخرتي التي فيها معادي ، واجعل الحياة زيادة لي في كل خير ، واجعل الموت راحة لي من كل شر (أخرجه مسلم 4 / 2087)
  8. اللهم إني أسألك الهدى ، والتقى ، والعفاف ، والغنى (أخرجه مسلم 4 / 2087)
  9. اللهم آتنا في الدنيا حسنة ، وفي الآخرة حسنة ، وقنا عذاب النار (البخاري 7 / 163 ، ومسلم 4 / 2070)
  10. اللهم إني أعوذ بك من فتنة النار وعذاب النار ، وفتنة القبر ، وعذاب القبر ، وشر فتنة الغنى ، وشر فتنة الفقر ، اللهم إني أعوذ بك من شر فتنة المسيح الدجال ، اللهم اغسل قلبي بماء الثلج والبرد ، ونق قلبي من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس ، وباعد بيني وبين خطاياي كما باعدت بين المشرق والمغرب . اللهم إني أعوذ بك من الكسل والمأثم والمغرم (البخاري 7 / 161 ، ومسلم 4 / 2078)[20]
    1. 4. Kajian Tafsir Al-Baqarah [2] : 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَÇÊÑÏÈ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Pada ayat diatas kalimat Da’wah berarti permintaan, seperti yang telah diterangkan dalam Tafsir As-Sya’rawi, bahwasannya lafadz Da’wah bermakna Al-Su’al yakni permohonan. Kemudian dalam kitab Tafsir tersebut diterangkan bahwasannya Allah akan mengabulkan permintaan hambanya, seperti dalam Hadits Qudsi-Nya :

الله سبحانه يقول في الحديث القدسي : ) ثلاثة لا ترد دعوتهم ، الصائم حتى يفطر ، والإمام العادل ، ودعوة المظلوم ، يرفعها الله فوق الغمام وتفتح لها أبواب السماء ، ويقول الرب : وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين [21](

Sedangkan makna dari lafadz Da’wah dalam ayat di atas menurut Abu Ishaq mempunyai tiga macam makna, seperti dalam ungkapan beliau di dalam kitab Lisan al-‘Arab:

“Dalam firman Allah Ujibu Da’wah al-Da’i idza Da’an makna lafadz Da’wah mempunyai tiga macam makna. Pertama, bermakna pengesaan Allah dan pujian kepada-Nya, seperti pada lafadz Yaa Allah Laa Ilah Illa Anta dan lafadz Rabbana Laka al-Hamdu. Kedua, permohonan ampunan dan Rahmah kepada Allah swt, seperti pada lafadz Allahumma Ighfir Lana. Ketiga, al-Da’wah bermakna permohonan bagian dari (rizqi) kepada Allah yang bersifat duniawi, seperti pada lafadz Allahumma Urzuqni Malan Wa Walada.”[22]

Apabila dilihat dari segi Asbab al-Nuzul, ayat ini turun ketika salah seorang Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : “Wahai Rasulullah, apakah Allah itu dekat, sehingga kami minta keselamatan kepada-Nya atau jauh sehingga kami memanggil-Nya?” Rasulullah terdiam dan turunlah ayat tersebut. Selanjutnya dalam Tafsir Al-Sa’dy (Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan) diterangkan bahwasannya lafadz al-Du’a’ dalam ayat tersebut bisa bermakna dua macam, yakni permohonan dan Ibadah.[23]

Dari sisi Asbab al-Nuzul ayat ini, lebih jauh lagi terdapat lima pendapat sebagaimana yang terdapat dalam kitab tafsir Zad al-Maisir, pertama seperti yang telah diuraikan di atas. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa ayat ini turun ketika kaum Yahudi Madinah bertanya kepada Rasul: “Wahai Muhammad, bagaimana mungkin Tuhan dapat mendengar doa kita, sementara kamu pernah bilang bahwasannya jarak antara kita dengan langit ialah perjalanan selama lima ratus tahun?”. Kemudian turunlah ayat ini.

Ketiga, seseorang pernah bertanya kepada Rasul: “Wahai Rasul, apabila kami mengetahui tanda-tanda hari kiamat, apakah Allah akan menerima doa-doa kami?”. Kemudian turunlah ayat ini. Keempat, salah seorang sahabat bertanya: “Dimanakah Allah?”, lantas turunlah ayat ini. Kelima, seorang diantara sahabat pernah melakukan apa yang diharamkan oleh Allah pada waktu berpuasa, yakni makan dan juga berjima’, sehingga dia bertanya kepada Rasul: “Bagaimanakah cara kami bertaubat dari apa yang telah kami perbuat?”, lalu turunlah ayat tersebut.[24]

Dari kelima Asbab al-Nuzul di atas, dapat digeneralisasikan bahwasannya ayat tersebut turun dilatarbelakangi oleh pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah, baik itu dari kaum Yahudi, maupun dari kalangan sahabat sendiri. Dan yang jadi titik tekan dari kelima Asbab al-Nuzul tersebut, ialah pertanyaan mengenai posisi Allah, sehingga turunlah ayat yang mengasusimkan bahwa Allah sangatlah dekat dengan kita, dan konsekwensi dari kedekatan tersebut ialah mudahnya Allah mendengar doa para hambanya untuk kemudian dikabulkan oleh-Nya.

 

  1. D. Hal-hal lain mengenai doa

Allah sudah pasti akan menjawab doa manusia. Jika seseorang berdoa, paling tidak dia akan mendapatkan 3 macam perlakuan; dikabulkan waktu itu juga, ditunda pengkabulan doanya, atau diganti dengan hal lain yang lebih baik untuk pendoa. Hal ini sebagaimana yang diinformasikan sabda Rasulullah:

إنه لا يضيع الدعاء بل لا بد للداعي من إحدي الثلاث: إما ان يجعل له دعوته وإما أن يدخرها له في الأخرة وإما ان يصرف عنه من السوء مثلها (أخرجه أحمد)

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan doa salah seorang di antara kamu, melainkan mestilah bagi orang yang berdoa salah satu dari 3 perkara: mengabulkan Allah doanya, atau menundanya hingga di akhirat, atau menggantinya dengan yang lainnya.” (HR. Ahmad)[25]

Untuk itu, perlulah beberapa kiat yang mesti dijalankan ketika berdoa, dengan orientasi melakukan doa terbaik dan Allah mengabulkan doa tersebut. Hal ini bisa berupa adab dalam berdoa. Tidak dipungkiri, ketika menghadap manusia dalam rangka meminta pertolongan, seseorang terikat suatu adab sopan-santun. Apalagi ketika berhadapan dengan Allah, tentunya di sana juga terdapat kode etik yang harus diperhatikan.

Berikut ini disampaikan beberapa adab dalam berdoa yang dikutip dari kitab ad-Du’a wa Yalihi al-‘Ilaj bi al-Ruqy min al-Kitab wa al-Sunnah [26]:

  1. Berdoa dengan rasa ikhlas
  2. Memulai dan menutup doa dengan memuji Allah dan shalawat kepada Rasulullah
  3. Yakin dengan apa yang didoakan dan yakin bahwa doa akan dikabulkan
  4. Perlahan-lahan dan tidak terburu-buru
  5. Menghadirkan hati dalam doa
  6. Berdoa dalam keadaan lapang maupun sempit
  7. Tidak berdoa melainkan hanya kepada Allah
  8. Memelankan suara antara terdengar dan tidak
  9. Mengingat dosa dan istighfar atasnya dan mengingat nikmat dan mensyukurinya

10.  Tidak dituntut bersajak dalam doa

11.  Tunduk, khusu’, harap, dan takut

12.  Menolak kezhaliman dan bertaubat

13.  Menghadap kiblat

14.  Mengangkat tangan

15.  Berwudhu’ sebelum berdoa

16.  Memulai doa untuk dirinya sendiri sebelum mendoakan orang lain

17.  Bertawassul dengan Asma Allah, atau amalan shaleh, atau doa seseorang yang shaleh.

18.  Menggunakan pakian yang halal, makanan dan minuman yang halal juga

19.  Tidak mendoakan kesalahan atau pemutusan sillaturrahim

20.  Menyuruh kepada ma’ruf dan menghalangi kemungkaran

21.  Menghindari kazhaliman

Di samping itu, juga ada beberapa waktu yang dinilai lebih jika berdoa di dalamnya[27]:

  1. Malam lailah al-qadr
  2. Pada penghujung akhir malam
  3. Selepas shalat fardhu
  4. Antara azan dan iqamah
  5. Dikala azan
  6. Disaat hujan turun
  7. Di majlis zikir muslimin
  8. Doa di bulan Ramadhan
  9. Doa di hari Arafah

10.  Doa seseorang terhadap saudaranya di dalam hati

11.  Selepas meninggalnya seseorang

12.  Jika tidur dalam keadaan suci, dan bangun lalu berdoa

13.  Sewaktu sujud

14.  Ketika minum air zamzam

15.  Berdoa sesaat di hari Jumat

16.  Dikala bala tentara muslim berkumpul untuk perang.

 

 

  1. Penutup

Kajian yang terdapat dalam al-Qur’an tidak akan pernah ada hentinya. Seiring berkembangnya zaman ragam penafsiran al-Qur’an senantiasa muncul dan mencetuskan pemikiran-pemikiran cemerlang dari para mufassir. Begitu juga halnya pembahasan doa dalam al-Qur’an, tidak akan mampu ter-cover dalam satu makalah ataupun buku yang tebal sekalipun.

Makalah ini bukanlah hasil final dari sebuah pembahasan tentang doa dalam al-Qur’an, dan memungkinkan terdapat banyaknya kesalahan. Penulis hanya berharap akan ada peneliti-peneliti dari cendekiawan muslim yang bersedia menyumbangkan fikirannya untuk kembali menelaah ulang pembahasan doa dalam al-Qur’an. Sehingga dapat mengembangkan wacana keislaman baik dari sisi Intelektualitas, moralitas, maupun spiritualitas. Akhir kata penulis mohon maaf apabila dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan, baik dari segi penulisan maupun kesalahan informasi (data) yang disampaikan.

 

 

 


[1]Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Kitab Jawabul Kafi Jawaban Lengkap Tentang Obat Mujarab terj. Drs. Anwar Rasyidi ( Semarang : CV. Adhi Grafika, 1993) hlm. 26. Namun pendapat ini bukanlah pendapat yang dikemukakan oleh Ibn Qayyim, melainkan pendapat orang lain yang dikutipnya tanpa menyebutkan nama, yang kemudian dibantah oleh Ibn Qayyim sendiri.

[2]Moh. Soehadha, “Pengertian Antropologis Tentang Agama dan Pengertian Oleh Negara Tentang Agama di Indonesia”, ESENSIA, VI no.2, Juli 2005, hlm. 183-190.

[3] A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya : Pustaka Progressif, 1997), hlm. 407.

[4] A. Baikuni dkk, Ensiklopedi al-Qur’an, (Yogyakarta : Dana Bhakti Primayasa,2003 ), hlm. 436.

[5] Muhammad Ibn Mukarram Ibn Mandzhur, Lisan al-‘Arab juz 1 hlm. 53. CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[6] Muhammad Ibn Mukarram Ibn Mandzhur, Lisan al-‘Arab juz 1 hlm. 51.

[7] A. Baikuni dkk, Ensiklopedi al-Qur’an, hlm. 436.

[8] Muhammad Al-Fairuz Abadi, Kamus Al-Muhith Juz 3 hlm. 419 ,CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[9] Wizarah al-Auqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah bi al-Kuwait, Al-Mausu’ah al-fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah Juz 2 hlm. 8396 ,CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[10] Ibn As-Siraj, Al-Ushul fi Al-Nahw juz 2 hlm. 170, CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[11] An-Nawawi, Riyadl As-Shalihin hlm. 157, CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008

[12] A. Baikuni dkk, Ensiklopedi al-Qur’an, hlm. 436-437.

[13] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda dan juga zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka

[14] Maksudnya: tidak mempunyai keturunan yang mewarisi

[15] Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.

[16] A. Baikuni dkk, Ensiklopedi al-Qur’an, hlm. 437.

[17] Syihab al-Din al-Alusiy, Ruh al-Ma’ani Fi Tafsir al-Qur’an al-Adhim wa al-Sab’ al-Matsani Juz VI hlm. 485. CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008

[18] A. Baikuni dkk, Ensiklopedi al-Qur’an, hlm. 439.

[19] A. Baikuni dkk, Ensiklopedi al-Qur’an, hlm. 439.

[20] Sa’id ibn ‘Ali ibn Wahab al-Qahthaniy, al-Du’a wa Yalihi al-‘Ilaj bi Ruqy min al-Kitab wa al-Sunnah, (Saudi Arabia: Wizarah al-Syu’un al-Islamiyyah wa al-Auqaf wa al-Da’wah wa al-Irsyad, 1423 H), hlm. 7.

[21] Tafsir As-Sya’rawi Juz 1 hlm. 476, CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008. Dalam CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah Kitab Tafsir As-Sya’rawi ini tidak ditemukan pengarangnya, dan penulis kesulitan mencari kitab sumber asli dari kitab tersebut.

[22]Muhammad Ibn Mukarram Ibn Mandzhur, Lisan al-‘Arab juz 14 hlm. 257.

[23]Abd Al-Rahman, Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan Juz 1 hlm. 87, CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[24] Ibn al-Jauzy, Zad al-Maisir Juz I hlm. 175, CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[25] Al-Shan’ani, Subul as-Salam Juz VII hlm. 249, , CD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[26] Sa’id ibn ‘Ali ibn Wahab al-Qahthaniy, al-Du’a wa Yalihi al-‘Ilaj bi Ruqy min al-Kitab wa al-Sunnah, hlm. 4.

[27] Sa’id ibn ‘Ali ibn Wahab al-Qahthaniy, al-Du’a wa Yalihi al-‘Ilaj bi Ruqy min al-Kitab wa al-Sunnah , hlm. 5.

 

Konsep Baik dan Buruk

Posted: November 30, 2010 in Ke-Islam-an

Akal adalah pemberian Tuhan kepada manusia untuk membedakan manusia dengan Makhluk lain ciptaan-Nya. Akal juga berpengaruh besar dalam penetapan suatu hukum Islam yang tidak terdapat dalilnya dalam Nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits). Namun dalam kadar penggunaannya, ulama banyak yang berbeda pendapat, diantaranya mengenai peran akal dalam menentukan baik dan buruk yang hubungannya dengan Wahyu.
Mengenai hal ini, secara garis besar perbedaaan ulama dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian:
Pertama, Golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa baik dan buruk itu adalah dua sifat esensial yang ada pada sebagian hal, dan sebagian hal lain berada antara manfaat dan madharat serta diantara baik dan buruk. Dalam hal ini salah seorang tokoh mereka, Al-Juba’i, mengatakan : “Setiap perbuatan ma’siat yang jaiz bagi Allah untuk memerintahkannya, maka nilai keburukan perbuatan itu karena adanya larangan (qabih lin-nahyi). Dan setiap perbuatan ma’siat yang wajib bagi Allah untuk tidak memperbolehkannya,maka nilai keburukan itu terletak pada esensinya (qabih linafsihi), seperti halnya tidak mengenal Allah SWT. atau bahkan menyekutukannya. Demikian pula setiap perbuatan yang jaiz bagi Allah untuk memerintahkannya, maka nilai kebaikan perbuatan itu karena adanya perintah (hasan lil-amri bihi). Dan setiap perbuatan yang wajib bagi Allah untuk memerintahkannya, maka nilai kebaikan perbuatan itu karena esensinya (hasan li-nafsih).
Golongan Mu’tazilah juga sering disebut dengn Ahl Ar-Ra’y, karena selalu melandaskan dasar pengambilan hukum dengan nadzhari (rasio). Mu’tazilah juga berpendapat, dengan perantara akal yang sehat dan cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk dan mengerjakan yang baik.
Kedua, Pendapat golongan Maturidiyah yang dinukil dari Abu Hanifah dan dianut pula oleh Ulama Hanafiah mereka ini mengatakan bahwa sesuatu itu secara esensial (menurut dzatnya) ada yang baik dan ada yang buruk. Dan sesungguhnya Allah tidak akan melarang sesuatu yang baik menurut dzatnya. Dengan demikian, mereka ini membagi sesuatu kepada :
1. Hasan li dzatihi (baik menurut dzatnya)
2. Qabih li dzatihi (buruk menurut dzatnya)
3. Sesuatu yang ada diantara keduanya, dan ini tergantung pada perintah dan larangan Allah swt.
Menurut Al-maturidiyah, penentu baik dan buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syariah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu. Ia mengakui akal tidak selalu mampu membedakan antara baik dan buruk, namun terkadang pula mampu mengetahui sebagian baik dan buruknya sesuatu. Dalam kondisi demikian, wahyu diperlukan untuk dijadikan sebagai pembimbing.
Ketiga, Pendapat golongan Asy’ariyah, yang dipegangi oleh jumhur ulama Ushul, yang berpendapat bahwa segala sesuatu itu menurut dzatnya (secara esensial),tidak ada yang baik maupun yang buruk. Semuanya mutlak tergantung dan ditentukan oleh kehendak Allah. Dalam aturan syara’. Tidak ada sesuatupun yang membatasi kehendak-Nya. Dia adalah pencipta sesuatu dan Dia pula yang menciptakan baik dan buruk. Oleh karena itu, segala yang Dia perintahkan itulah yang baik, dan segala sesuatu yang Dia larang itulah yang buruk. Tiada taklif (pembebanan) karena keputusan akal, tetapi taklif hanya berdasar pada perintah dan larangan Syari’ (Allah).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Jumhur-Fuqaha berpendapat bahwa al-Hakim (pembuat hukum) adalah Allah, dan akal tidak dapat memberi beban hukum (taklif), meskipun ia mampu menemukan sesuatu yang hasan li dzatihi serta qabih li dzatihi.

Reinterpretasi Hadis Bid’ah

Posted: November 30, 2010 in Kajian Hadis

A.Pendahuluan

Islam sebagai sebuah Agama tentulah memiliki beberapa tuntunan yang komprehensif dalam membina dan membimbing umatnya untuk taat kepada ajaran-ajarannya. Agama ini merupakan salah satu dari ketiga agama wahyu (Abrahamic Religions) yang segala sumber ajarannya bedasarkan tuntunan dari Tuhan, yang kemudian diperantarakan melalui seorang Rasul (Utusan) untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai objek. Dan dalam hal ini, Muhammad ibn ‘Abd Allah sebagai penyampai risalah tersebut. Segala perkataan, perbuatan, maupun ketetapan beliau dijadikan sebagai salah satu sumber Hukum Islam. Lengkapnya, Islam memiliki dua sumber primer yang diyakini keduanya merupakan represntasi dari kehendak Tuhan, yakni al-Qur’an dan Hadits.

Otoritas tertinggi dipegang oleh al-Qur’an, karena kesemua isinya diriwayatkan secara Mutawatir, juga redaksi dan maknanya bersumber dari Allah secara langsung. Berbeda dengan Hadits yang sebagian besar jalur periwayatannya menempuh jalur Ahad, dan bukan wahyu Tuhan secara utuh, melainkan Rasul hanya membawa prinsip dasar dari wahyu tersebut yang kemudian diejawantahkan dalam bentuk perkataan dan juga perbuatan beliau. Dalam dataran ini, Rasul sebagai pembawa risalah ketuhanan adalah utusan yang tidak mungkin melakukan kesalahan ketika berijtihad, apabila salah pun pasti ada teguran dari sang Pembuat Risalah (Allah). Namun apabila hal tersebut berkenaan dengan urusan duniawi, Rasul yang juga merupakan manusia biasa sangatlah mungkin melakukan kesalahan.

Akan tetapi dalam perkembangannya, kedua sumber tersebut dirasa tidak mampu dalam menjawab semua permasalahan sosial-keagamaan yang muncul pasca berhentinya wahyu (ditandai dengan wafatnya Rasul). Hal ini sangatlah wajar, karena pada fakta empiriknya, kehidupan sosial masyarakat terus berkembang, sedangkan wahyu telah terputus. Berbagai upaya telah ditempuh guna menjawab beberapa problematika tersebut, Ulama mengambil jalan Ijma’ (yakni kesepakatan komunal para Ulama terdahulu). Dan hal ini pun kemudian tidaklah mampu meng-cover keseluruhannya, pada masa selanjutnya munculnya sebuah gagasan Qiyas, yakni menganalogikan teks dengan konteks.

Kesadaran akan realita sosial yang dinamis tersebut, adalah sebuah keniscayaan untuk bisa memformulasikan teks dengan konteks. Karena konsekwensi dari fenomena tersebut, sangatlah tidak mungkin kita berperilaku sama persis dengan Rasul, bukan hanya karena perbedaan ruang dan waktu, tapi juga disebabkan perbedaan karakteristik masyarakat yang ada. Terlebih ketika dihadapkan dengan urusan duniawi, terlihat jelas bahwa sistem yang berlaku pada tatanan masyarakat kekinian sangatlah berbeda dengan setting historycal background masayarakat ketika Rasulullah hidup. Pun demikian dalam urusan peribadatan, karena Islam tidak hanya tertentu untuk satu kaum dan untuk satu masa, maka sangatlah wajar jika nantinya banyak timbul permasalahan yang belum pernah ada di zaman Rasul. Ambil contoh menuntut Ilmu, hal ini merupakan salah satu perintah dalam ajaran Agama Islam yang telah ada sejak zaman Nabi hidup. Dan hal ini juga merupakan salah satu bentuk petibadatan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi dalam prakteknya, hal ini mengalami perubahan yang cukup signifikan dari segi kaifiyyah, dengan adanya perguruan tinggi, sekolah-sekolah umum, bimbingan belajar, dan lain sebagainya. Berbeda dengan zaman Nabi, kegiatan menuntut Ilmu diadakan dalam bentuk halaqah di masjid-masjid dan juga beberapa Khutbah Nabi. Adakah cara (kaifiyyah) tersebut (belajar di sekolah, dst.) merupakan suatu hal yang baru dalam ajaran Islam sehingga nantinya disebut dengan Bid’ah yang memiliki implikasi hukum haram? Dan juga dari segi konten, banyak sekali ilmu-ilmu baru yang tidak pernah ada di zaman Rasul yang sekarang sedang bertumbuhkembang. Dan apakah hal semacam ini juga dikategorikan sebagai bid’ah dalam Agama Islam?

Dalam makalah sederhana ini, kami berusaha untuk membahas Bid’ah yang memang secara eksplisit telah diharamkan oleh Rasul dalam beberapa hadits beliau. Yakni dengan menggunakan analisis Ma’an al-Hadits, yang di dalamnya membahas Bid’ah tersebut dari tinjauan makna yang terdapat dalam hadits pelarangannya. Sedikit berbeda dengan analisis Ma’an al-Hadits pada umumnya yang lebih menekankan aktualisasi yang berlangsung pada era kekinian yang berangkat dari pemahaman sebuah Hadits Rasul, dalam makalah ini lebih memfokuskan terhadap kajian teori semata. Namun bukan berarti hal yang baru, pembahasan Bid’ah ini merupakan tema klasik yang sampai sekarang belum juga usai perdebatannya.

B. Inventarisasi Hadits-hadits Satu Tema

Dalam point ini akan disajikan beberapa redaksi Hadits yang setema dengan menggunakan metode Takhrij bi al-Alfadz. Yang kemudian disertakan beberapa Hadits lain yang tidak sama redaksi, namun masih memiliki keterkaitan makna dengan Hadits-hadits sebelumnya.

Hadits primer:

أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وَكُلُّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ ثُمَّ يَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالا فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ[1]

“……..dari Jabir ibn ‘Abd Allah berkata:Rasulullah saw bersabda dalam khutbahnya dengan memuji Allah dan memberikan pujian terhadap yang berhak mendapatkannya, dan kemudian berkata: “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka ia tidak ada kesesatan baginya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada petunjuk baginya. Sesungguhnya sebenar-benarnya perkataan ialah Kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baiknya petunjuk ialah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jeleknya perkara ialah sesuatu yang baru, dan setiap perkara yang baru itu merupakan bid’ah, dan setiap bid’ah ialah bentuk dari kesesatan, dan setiap kesesatan nerakaah tempatnya…..”

Lafadz hadits yang bergarisbawah di atas merupakan kajian pokok dalam makalah ini. Kemudian dari hasil takhrij yang dilakukan penulis dengan menggunakan metode takhrij bi al-alfadz (lafadz kullu bid’ah, kullu dlalalah, kullu muhdatsah) menemukan hasil pencaharian 95 hadits, dengan perincian kullu bid’ah: 19, kullu dlalalah: 18, kullu muhdatsah : 28. Dari kesekian banyaknya redaksi Hadits yang ditemukan, matan hadits yang memiliki satu konteks dan satu makna terdapat 12 hadits, rata-rata memiliki susunan redaksional yang hampir sama. Matan-matan Hadits tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

Shahih Muslim 1435

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله قَالَ كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ الله وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الامُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلالٍ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ الله يَقُولا كَانَتْ خُطْبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَحْمَدُ الله وَيُثْنِي عَلَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِ ذَلِكَ وَقَدْ عَلا صَوْتُهُ ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِهِ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَحْمَدُ الله وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ الله فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ وَخَيْرُ الْحَدِيثِ كِتَابُ الله ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ

Sunan Abi Daud 3991

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنِي خَالِدُ بْنُ مَعْدَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو السُّلَمِيُّ وَحُجْرُ بْنُ حُجْرٍ قَالا أَتَيْنَا الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ وَهُوَ مِمَّنْ نَزَلَ فِيهِ وَلا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْنَا وَقُلْنَا أَتَيْنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ وَمُقْتَبِسِينَ فَقَالَ الْعِرْبَاضُ صَلَّى بِنَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ الله كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى الله وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الامُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Sunan Ibn Majah 42

حَدَّثَنَا عَبْدُ الله بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَشِيرِ بْنِ ذَكْوَانَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الله بْنُ الْعَلاءِ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي الْمُطَاعِ قَالَ سَمِعْتُ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ يَقُولُ قَامَ فِينَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقِيلَ يَا رَسُولَ الله وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ فَاعْهَدْ إِلَيْنَا بِعَهْدٍ فَقَالَ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى الله وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلافًا شَدِيدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَالامُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Sunan Ibn Majah 44

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَحْمَدُ بْنُ ثَابِتٍ الْجَحْدَرِيُّ قَالا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله قَالَ كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرِنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الامُورِ كِتَابُ الله وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وَكَانَ يَقُولُ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ

Dalam rangka efisiensi penulisan makalah, selanjutnya hanya akan dipaparkan hadits-hadits tersebut dalam bentuk tabel. Karena dari kesemuanya tidak terdapat perbedaan redaksi yang cukup signifikan.

Nama Kitab Nomer Bab (Kitab) Sub-bab (Bab)
Shahih Muslim 1435 Al-Jum’ah Takhfif al-Shalat wa al-Khutbah
Sunan Abi Daud 3991 Al-Sunnah Fi Luzum al-Sunnah
Sunan Ibn Majah 42 Al-Muqaddimah Ittiba’ Sunah al-Khulafa’ al-Rasyidin al-Muhdiyyin
Sunan Ibn Majah 44 Al-Muqaddimah Ijtinab al-Bida’ wa al-Jadl
Sunan Ibn Majah 45 Al-Muqaddimah Ijtinab al-Bida’ wa al-Jadl
Musnad Ahmad 13815 Baqi al-Musnad al-Mukatsirin Musnad Jabir ibn ‘Abd Allah
Musnad Ahmad 14455 Baqi al-Musnad al-Mukatsirin Musnad Jabir ibn ‘Abd Allah
Musnad Ahmad 16521 Musnad al-Syamiyyin Hadits al-‘Irbadh ibn Sariyyah ‘an al-Nabi
Musnad Ahmad 16522 Musnad al-Syamiyyin Hadits al-‘Irbadh ibn Sariyyah ‘an al-Nabi
Sunan Al-Darimi 95 Al-Muqaddimah Ittiba’ al-Sunnah
Sunan Al-Darimi 208 Al-Muqaddimah Fi Karahiyyat Akhdz al-Ra’y
Sunan Al-Darimi 209 Al-Muqaddimah Fi Karahiyyat Akhdz al-Ra’y[2]

Kedua belas hadits tersebut berbicara tentang keharaman membuat perkara baru dalam agama (Bid’ah) dan anjuran untuk senantiasa berpegang teguh pada al-Qur’an dan Hadits, dan hadits tersebut dikeluarkan Rasul dalam fatwanya ketika berkhutbah di depan para shahabat. Namun, terdapat beberapa versi yang menerangkan tentang munculnya hadits tersebut, yang pertama ketika Rasul berkhutbah setelah shalat shubuh berjama’ah, yang kedua ketika datang seorang shahabat yang bernama Irbadh, kemudian ia meminta Rasulullah untuk memberikan mau’idhah hasanah, ada juga yang mengatakan hadits ini muncul ketika Irbadh bertanya dan itu terjadi usai shalat shubuh. Dan dalam hadits lain tidak terdapat keterangan sama sekali kapan hadits ini muncul. Dalam makalah ini sengaja tidak terlalu terfokus pada kajian asbab al-wurud,—hemat penulis—karena pembahasan mengenai kapan hadits ini muncul tidaklah terlalu berpengaruh pada penafisran nantinya.

Kemudian diuraikan beberapa redaksi hadits yang memilki kesamaan tema, ataupun beberapa hadits lain yang dapat membantu pemaknaan hadits di atas, baik itu yang seide, ataupun yang tampak saling bertentangan. Dan disini tidak disertakan hasil takhrij yang menggunakan metode bi al-maudlu’ al-fiqhiyy, karena memang tema Bid’ah tidak termasuk dalam tema-tema fiqh. Dan juga dikarenakan perbedaan peletakan hadits bid’ah ini dalam al-Kutub al-Tis’ah, dalam sebagian kitab, hadits ini ditempatkan dalam muqaddimah, di kitab lain hadits ini dimasukkan ke dalam pembahasan shalat al-Idain, tidak dikelompokkan dalam satu pembahasan utuh. Sehingga hal ini menyulitkan penulis dalam mencari menggunakan metode Takhrij bi al-Maudlu’. Berikut hadits-hadits yang berkaitan dengan hadits-hadits sebelumnya:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رَوَاهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَعَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَبِي عَوْنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ[3]

“….dari Aisyah R.A berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”.. Diriwayatkan juga dari jalur Abd Allah ibn Ja’far…….”

حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْعَسْكَرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ أَبُو هَاشِمِ بْنِ أَبِي خِدَاشٍ الْمَوْصِلِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِحْصَنٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَقْبَلُ اللهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلا صَلاةً وَلا صَدَقَةً وَلا حَجًّا وَلا عُمْرَةً وَلا جِهَادًا وَلا صَرْفًا وَلا عَدْلا يَخْرُجُ مِنْ الإِسْلامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنْ الْعَجِينِ[4]

“…dari khudaifah berkata: Rasulullah saw bersabda: Allah tidak akan menerima amal ibadah orang yang ahli bid’ah, baik itu puasanya, shalatnya, shadaqahnya, hajjinya, umrahnya, jihadnya, pembelanjaannya, dan juga keadilannya, dia keluar dari Islam seperti keluarnya rambut dari adonan roti (yang terbuat dari tepung)”[5]

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ[6]

Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang mengawali perbuatan yang baik dalam agama Islam (guna diikuti oleh orang setelahnya), maka baginya pahala (dari perbuatan tersebut) dan juga pahala orang yang mengamalkannya setelahnya dengan tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun, dan barang siapa yang mengawali perbuatan yang buruk dalam agama Islam (guna diikuti oleh orang setelahnya), maka baginya dosa (dari perbuatan tersebut), dan juga dosa orang-orang yang mengerjakan setelahnya dengan tanpa mengurangi dosa-dosa mereka satu sama lain”

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ[7]

“….dari Ibn ‘Umar berkata: ketika kami shalat bersama dengan Rasul, salah seorang dari Jama’ah mengucapkan kalimat “Allah Akbar kabiran wa alhamdu lillahi katsiran wa subhana Allah bukratan wa ashilan” kemudian berkata Rasul: Siapa yang telah membaca kalimat tersebut? Lalu berkatalah pemuda tersebut: Saya wahai Rasul. Dan kemudian Rasul bersabda: Saya ta’jub mendengar kalimat itu, dan pintu-pintu surga telah dibukakan untuk orang yang membacanya. Dan berkata Ibn ‘Umar: Saya tidak pernah meninggalkannya (bacaan tersebut) semenjak Rasul bersabda yang demikian itu”

C. Kritik Sanad

Adanya tenggang waktu yang relatif jauh antara kita dan Rasul mengharuskan untuk meneliti otentisitas dari Hadits-hadits yang disandarkan kepada Rasulullah. Sehingga penelitian terhadap sanad yang menggambarkan jalannya informasi dari masa ke masa menjadi kajian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Diskurus Ma’an al-Hadits pun juga mensyaratkan adanya tingkat validitas diterimanya hadits yang akan dikaji dan diteliti (dengan standard minimal Hasan).[8] Poin ini akan membahas para rawi yang terlibat dalam proses periwayatan hadits yang sedang dibahas.

Para Rawi:

  • Jabir ibn ‘Abd Allah

Beliau memiliki nama lengkap Jabir ibn ‘Abd Allah ibn ‘Amr ibn Haram. Lahir dan besar di kota Madinah, dan hidup dalam kalangan Anshar. Beliau merupakan salah satu tokoh di kalangan sahabat. Guru-guru beliau antara lain; Ubay ibn Ka’b, Ummi Kultsum binti Abi Bakr, Qatadah ibn Nu’man, dan masih banyak lagi guru-guru beliau dari kalangan sahabat. Dalam diskursus Ilmu Hadits kalangan sunny, Jumhur Ulama bersepakat bahwa semua sahabat memiliki kredibilitas tertinggi dalam periwayatan, sehingga penelitian terhadap mereka tidak lagi diperlukan. Karena mereka merupakan saksi utama yang hidup bersama dengan Rasul, sehingga kemampuan pemahaman dan juga daya tangkapnya pun memiliki nilai lebih.[9] Dan implikasinya pun, sangatlah jarang tentang informasi Jarh wa al-Ta’dil terhadap mereka.

  • Abu Ja’far

Nama Abu Ja’far merupakan kunyah yang dinisbatkan kepada anaknya yang juga termasuk salah satu Rawi yang eksist di dunia periwayatan Hadis. Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Ibn ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib. Lahir di kota Madinah, membuatnya lebih mudah dalam mengakses informasi yang berhubungan dengan Islam, khususnya tentang Hadits. Terlebih beliau juga termasuk ke dalam Ahl al-Bait, tepatnya cucu dari Husain RA. Dan Jabir ibn ‘Abd Allah adalah satu dari guru yang telah mengajarkan banyak disiplin Ilmu kepadanya. Hasan pun bertindak sebagai guru yang telah mendidik beliau, sehingga ilmu yang diserapnya pun sangat banyak yang bersumber dari perawi yang dapat dipercaya kredibilitasnya. Selain sebagai guru, Hasan juga termasuk dari kerabat beliau, yaitu saudara kandung dari Kakek beliau, Husain. Kemudian di akhir hayatnya beliau habiskan untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah ia terimanya, dan wafat bertepatan tahun 114 H, di kota kelahirannya, Madinah. Sanjungan yang disematkan kepada beliau dari para Ulama lain pun sangat banyak, diantaranya Ibn Hibban menilainya sebagai seorang yang tsiqah, dan juga Muhammad ibn Sa’d dengan penilaian yang sama. Beliau juga mempunyai banyak murid, diantaranya Rabi’ah ibn Abi Abd al-Rahman, Ja’far ibn Muhammad yang juga merupakan anak beliau dan dalam sanad yang sedang dibahas adalah salah satu perawi yang terdapat dalam mata rantai sanad hadits ini.

  • Ja’far ibn Muhammad

Ja’far ibn Muhammad—sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya—adalah anak dari Muhammad ibn ‘Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib yang juga merupakan seorang rawi yang masyhur. Darah Ahl al-Bait pun masih mengalir dalam tubuh beliau. Lahir dan wafat di kota Madinah, namun penyusun tidak dapat memberikan informasi mengenai sejarah pelawatan keilmuannya dikarenakan minimnya data. Wafat pada tahun 148 H, sehingga dapat diketahui dari sini bahwa beliau masih sempat bertemu dengan ayahnya yang wafat pada tahun 114 H, sehingga nantinya dapat diketahui ketersambungan sanad. Dari ayahnya itu, beliau banyak mendapatkan Ilmu dan juga beberapa riwayat Haidts. Namun sebagaimana seorang Ulama, guru yang mengajarkan Ilmu kepadanya tidaklah berjumlah sedikit, diantara gurunya yang lain ialah Atha’ ibn Abi Rabah seorang Ulama terkenal pada masanya. Mengenai kepribadian dan juga kapasitas intelektualnya, banyak Ulama yang memberikan komentar terhadapnya, salah satunya Imam al-Syafi’i. Imam al-Syafi’i menilainya sebagai perawi yang tsiqah, komentar senada pun dating dari al-Nasa’I, Yahya ibn Mu’ayyan dan juga ibn Abi Haitsamah.

  • Sufyan

Sebagian orang mengenalnya sebagai tokoh spiritual (Sufi), namun dibalik itu, beliau juga termasuk salah satu dari rawi yang banyak meriwayatkan Hadits. Beliau memiliki nama lengkap Sufyan ibn Sa’id ibn Masruq, dan kunyahnya Abu ‘Abd Allah. Nasab beliau al-Tsaury, dan hidup pada thabaqat Kibar al-Tabi’in. Beliau lahir di kota Kuffah, dan kemudian wafat di kota Bashrah pada tahun 161 H. Diantara guru-guru beliau adalah Ja’far ibn Muhammad, Adam ibn Sulaiman, dan juga Ibrahim ibn ‘Amir ibn Mas’ud. Beberapa muridnya antara lain ‘Abd Allah ibn al-Mubarak dan Ibrahim ibn Sa’id. Komentar dari Ulama pun sangat jarang yang mencela beliau, hampir dikatakan tidak ada. Syu’bah ibn al-Hajjaj menilainya sebagai Amir al-Mu’minin fi al-Hadits, yakni sebuah gelar tertinggi dalam klsifikasi Ulama Hadits, Ibn Hibban mengomentarinya dengan min al-Huffadz al-Muttaqin, dan Yahya ibn Mu’ayyan menilainya dengan gelar tsiqah.

  • Ibn al-Mubarak

Adalah ‘Abd Allah ibn Mubarak ibn Wadlih yang dalam sanad ini hanya disebut ibn al-Mubarak. Beliau hidup pada masa pertengahan Thabaqah Tabi’in (al-Wustha min al-Itba’). Kunyah beliau—selain sering disebut ibn al-Muabarak, juga sering disebut dengan—Abu ‘Abd al-Rahman, dan bernasabkan al-Marwazi. Beliau lahir di kota Hamash, dan kemudian wafat di kota Harah pada tahun 181 H. Sufyan ibn Sa’id adalah salah satu dari sekian banyak guru beliau, dan yang lain Sa’id ibn Yazid. Murid-murid yang pernah belajar Ilmu kepadanya diantaranya ‘Utbah ibn ‘Abd Allah ibn ‘Utbah, dan juga ‘Utsman ibn Muhammad ibn Ibrahim. Beberapa Ulama Ahli Hadits yang memberikan sanjungannya terhadap beliau Ahmad ibn Hanbal : Hafidz, Abu Hatim al-Razy : Tsiqah, Imam.

  • ‘Utbah ibn ‘Abd Allah

Beliau adalah salah satu dari guru Imam Besar dalam sejarah keilmuan Hadits, yakni Imam al-Nasa’i. Memiliki nama lengkap ‘Utbah ibn ‘Abd Allah ibn ‘Utbah, yang lahir di kota Hamash dan wafat pada tahun 244 H. Beliau termasuk dari golongan Kibar Tubba’ al-Itba’, yakni masa Tabi’ al-Tabi’in awal. Diantara beberapa gurunya adalah ‘Abd Allah ibn al-Mubarak, dan juga Yunus ibn Nafi’. Penilaian beberapa Ulama terhadapnya hampir kesemuanya men-ta’dil­-nya, antara lain muridnya sendiri, al-Nasa’i meninalainya sebagai rawi yang tsiqah, ibn Hibban menilainya juga senada dengan al-Nasa’i.

Telah diuraikan biografi singkat para rawi yang terdapat pada sanad Hadits Imam al-Nasa’i 1560. Data yang diuaraikan semuanya diambil dari software CD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, yang berupa data mentah dan kemudian disajikan dalam bentuk narasi-deskriptif. Setelah mengetahui bbiografi singkat tersebut dalam pembahasan ini akan diinformasikan kesimpulan dari Jarh wa Ta’dil terhadap mereka dari para Ulama dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Nama Kritikus Nama Rawi
Abu Ja’far Ja’far Sufyan Ibn Mubarak ‘Utbah
Ahmad ibn Hanbal حا فظ
Ibn Hibban ذكره من الثقات من الحفاظ المتقين وثقه
Al-Nasa’i ثقة ثقة, لابأس به
Yahya ibn Mu’ayyan ثقة ثقة متثب ثقة, صحيح الحديث
Abu Hatim al-Razy ثقة, لايسأل عن مثله ثقة إمام
Syu’bah أميرالمؤمنين في الحديث
Al-Syafi’i ثقة

Dari semua kritikus yang tercantumkan di atas, tidak satupun yang mencela (Tajrih) para perawi yang meriwayatkan Hadits yang sedang dibahas ini. Jadi kesimpulannya, dari segi intelektualitas maupun sisi personalitinya, para perawi di atas telah layak untuk di-ta’dil. Mengenai ketersambungan sanad, dapat kita lihat dari masa hidup para perawi di atas, kesemuanya sangatlah mungkin untuk bertemu, sehingga kemungkinan pemalsuan data historis periwayatan sangatlah minim terjadi. Syahid dari jalur lain pun turut memberikan sumbangsih dalam meningkatkan derajat otentisitas Hadits ini. Dan antara satu rawi ke rawi lain setelahnya memiliki hubungan antara guru dan murid, sehingga informasi yang disampaikan pun menjadi lebih berkualitas dibandingkan dengan para rawi yang tidak memiliki hubungan tersebut. Terlebih hubungan antara Muhammad ibn ‘Ali dengan Ja’far ibn Muhammad ibn ‘Ali memiliki hubungan ayah dan anak, sehingga memperkuat adanya ketersambungan mata rantai sanad. Dan disini penulis hanya menelaah sanad periwayatan hadits dari satu jalur, karena dirasa dapat mewakili untuk sekedar membuktikan bahwa hadits yang dikaji ini adalah hadits Maqbul yang memang dapat menjadi Hujjah dalam Istinbath hukum. Fokus penulis lebih ditekankan pada Naqd al-Dakhili (kritik matan) yang akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya.

D. Kritik Matan

Setelah melakukan penelitian singkat tentang sanad Hadits, langkah selanjutnya pembahasan ini akan menitik-beratkan terhadap pemaknaan yang erat kaitannya dengan aspek kebahasaan. Sub-bab ini nantinya akan terbagi ke dalam beberapa poin, poin yang pertama akan menguraikan Bid’ah secara definitif, baik itu secara etimologi maupun terminologi yang berkembang pada pemahaman beberapa Ulama mengenai term ini. Poin selanjutnya berusaha menjelas-jabarkan Syarh Hadits tinjauan linguistik serta pendekatan tematik (konfirmasi dengan Hadits dan dalil-dalil lain), dan bagian terakhir dari sub-bab ini akan menghadirkan informasi mengenai praktek keagamaan para sahabat dan generasi setelahnya pasca wafatnya Rasul.

  1. 1. Definisi “Bid’ah

Dirasa penting pemahaman makna bid’ah itu sendiri sebelum jauh memahami redaksi Hadits Rasul yang berisikan informasi tentang larangan bid’ah ini. Karena hal ini tentunya akan membantu dalam menentukan arah logika pemahaman sebuah teks. Secara etimologi, lafadz Bid’ah merupakan bentuk mashdar dari akar kata Bada’a- Yabda’u (بدع  –يبدع) yang bermakna membuat sesuatu baru yang belum ada sebelumnya.[10] Lafadz ini juga digunakan dalam bentuk Fa’il (pelaku dari suatu perbuatan) dalam al-Qur’an, yakni pada QS. Al-Baqarah (2):  117 ….بَديعُ السموات والأرض , pada ayat ini lafadz Badi’ merupakan sighat fa’il yang bermakna pencipta sesuatu yang belum ada sebelumnya, yakni Allah menciptakan langit tanpa permisalan apapun, tidak terinspirasi dari perkara lain yang serupa.[11] Contoh lain yang dihadirkan dalam beberapa literatur yang kaitannya dengan pemaknaan kata Bid’ah secara linguistik ialah ayat kesembilan dari surat al-Ahqaf (46),…… قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ, yang bermaksud bahwa Nabi bukanlah Rasul yang pertama kali diutus, telah terdapat beberapa Rasul sebelumnya.[12] Dr. ‘Izzat ‘Ali ‘Athiyyah memberikan tambahan pengertian dengan sesuatu yang diciptakan tanpa permisalan sebelumnya, baik itu mencakup perkara yang baik, ataupun perkara yang buruk. Sehingga menurut bahasa pun, kata Bid’ah ini sudah mencakup dua pembagian yang sering diperselisihkan, yaitu antara baik (Hasanah, Mahmudah) dan buruk (Sayyi’ah, Dlalalah, Madzmumah).[13]

Makna itu menjadi menyempit ketika dikaitkan dengan terma Bid’ah yang terdapat dalam ajaran Islam. Sehingga terkadang terjadi paradoksi antara pembatasan makna bid’ah antara definisi bahasa dan juga limitasi syar’i. Dalam beberapa karya konvensional, Ulama klasik juga berbeda dalam memberikan definisi dan batasan terhadap terma ini. Secara garis besar dari banyaknya pendapat tersebut, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama, mendefinisikan bid’ah sebagai segala sesuatu yang dimaksudkan ke dalam urusan Agama dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw semasa hidupnya, cakupannya tidak hanya perkara yang beriorientasi buruk, akan tetapi perkara baik pun juga termasuk jika tidak pernah dilakukan Rasul sebelumnya.[14] Kedua,segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasul yang bertentangan dengan Syara’.[15]

Dari beberapa definisi di atas, setidaknya ada sedikit gambaran bagaimana pendapat Ulama dalam memaknai kata Bid’ah. Sub-bab ini tidak akan terlalu jauh membahas bid’ah, hanya sebatas pendefinisian. Mengenai macam pengelompokkan dan juga metode yang digunakan Ulama dalam mengklasifikan Bid’ah ketika dihadapkan dengan Hadis yang sedang dikaji mengenai generalisasi keharaman Bid’ah secara mutlak akan dijelas-paparkan dalam poin berikutnya.

  1. 2. Kajian Linguistik Matn al-Hadits Serta Pendekatan Tematik

Pemaknaan sebuah teks tidak akan terlepas dengan kaidah kebahasaan yang membentuk kalimat tersebut. Untuk Hadits—dalam hal ini menggunakan bahasa Arab sebagai mediatornya—sudah barang tentu membutuhkan uslub bahasa Arab guna memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka dalam kajian linguistik ini, penulis berusaha menelisik lebih jauh lagi makna Matn al-Hadits di atas untuk kemudian ditarik sebuah kesimpulan berdasarkan redaksi guna mendapatkan pemahaman yang lebih proporsional dan juga komprehensif.

2.1. Setiap Perkara Baru Adalah Bid’ah

……وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وَكُلُّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ……..[16]

“…Dan setiap perkara yang baru itu merupakan bid’ah, dan setiap bid’ah ialah bentuk dari kesesatan, dan setiap kesesatan nerakaah tempatnya….”

Jika dimaknai secara literal, maka pemhaman akan Hadits ini serasa ekstrem. Karena sangatlah tidak mungkin kita hidup sama persis dengan kehidupan Rasulullah. Redaksi setiap perkara baru merpakan bid’ah, maka tidak ada kemungkinan kita untuk berperilaku dan bersikap yang tidak pernah dilakukan Rasul sebelumnya, tidak hanya dalam urusan peribadatan, namun juga mencakup aspek duniawi. Akan tetapi aspek duniawi tersebut terleburkan dengan adanya hadits:

….مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ…….

“….Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak…”

Sehingga pemaknaannya menjadi menyempit dengan Takhshish dari hadits lain. Hubungan antara sumber hukum Islam satu dengan yang lainnya memiliki hubungan integratif-interkonektif, tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Baik itu ayat al-Qur’an satu dengan ayat al-Qur’an lain, al-Qur’an dengan Hadits, maupun Hadits satu dengan Hadits lain. Hadits tersebut mengindikasikan bahwa sesuatu yang tertolak dan dilarang oleh Agama hanya perkara baru yang tertentu dalam urusan Agama saja. Hal ini juga sejalan dengan pendefinisian Bid’ah menurut Jumhur Ulama yang membatasinya dengan perkara baru yang cakupan wilayahnya hanya meliputi perkara Ukhrawi.[17] Akan tetapi, tidak dengan mudahnnya permasalahan dunia ini dikecualikan, karena pembatasan antara dimensi duniawi dan ukhrawi merupakan wilayah abu-abu (tidak memiliki batasan pasti), dan dalam faktanya pun, terkadang agama memasukkan hal-hal yang sekilas dipandang sebagai perkara duniawi  ke dalam perkara ukhrawi. Namun setidaknya dapat kita berikan suatu batasan umum dalam hal ini, urusan ukhrawi ditertentukan kepada urusan ibadah yang sifatnya vertikal (Habl Min Allah), dan ibadah antar sesama (Habl Min al-Nas) menjadi terkecualikan dari urusan ukhrawi ini. Hadits lain yang juga turut melegitimasi batasan Bid’ah ke dalam urusan ibadah Mahdlah:

……..لا يَقْبَلُ اللهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلا صَلاةً وَلا صَدَقَةً وَلا حَجًّا وَلا عُمْرَةً وَلا جِهَادًا وَلا صَرْفًا وَلا عَدْلا يَخْرُجُ مِنْ الإِسْلامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنْ الْعَجِين

“…….Allah tidak akan menerima amal ibadah orang yang ahli bid’ah, baik itu puasanya, shalatnya, shadaqahnya, hajjinya, umrahnya, jihadnya, pembelanjaannya, dan juga keadilannya, dia keluar dari Islam seperti keluarnya rambut dari adonan roti (yang terbuat dari tepung”

Hadits di atas dapat memberikan tambahan penjelasan mengenai kategorisasi Bid’ah yang diharamkan. Sebenarnya hadits ini lebih berbicara mengenai akibat dari orang yang membuat Bid’ah dengan konsekwensi ibadahnya tidak akan diterima. Setidaknya dari konsekwensi tersebut dapat menginformasikan bahwa batasan bid’ah lebih dikhsususkan dalam urusan ibadah Mahdlah. Dan rasul pun dalam salah satu hadits beliau menyebutkan bahwa Rasul membebaskan umatnya bertindak dalam urusan dunia sesuai yang mereka yakini akan kebenarannya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَهِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ أَصْوَاتًا فَقَالَ مَا هَذَا الصَّوْتُ قَالُوا النَّخْلُ يُؤَبِّرُونَهَا فَقَالَ لَوْ لَمْ يَفْعَلُوا لَصَلَحَ فَلَمْ يُؤَبِّرُوا عَامَئِذٍ فَصَارَ شِيصًا فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنْ كَانَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَشَأْنُكُمْ بِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أُمُورِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ[18]

“….kemudian berkata Rasulullah: Apabila perkara yang kaitannya dengan urusan dunia, maka hal itu tergantung pada diri kalian, dan apabila perkara yang kaitannya dengan urusan agama, maka bagikulah tanggung jawabnya.”

Hadits inilah yang kemudian memperkuat statemen bahwa dalam urusan agama (Ukhrawi) harus mengikut kepada sunnah Rasul, dan urusan dunia bukanlah menjadi permasalahan jika kita membuat perkara baru yang tidak pernah dilakukan oleh Rasul sebelumnya.[19] Maka poin yang didapat dari potongan hadits وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ ini hanya dikhususkan bagi perkara baru yang hubungannya dengan pembuatan syari’at.

2.2. Setiap Bid’ah Merupakan Bentuk dari Kesesatan

Analisis selanjutnya pada kalimat “وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“, lafadz Kullu tersebut merupakan penyeluruhan dari bentuk mufrad Bid’ah, sehingga hal ini berimplikasi bahwa tidak adanya pembagian baik buruk dalam urusan Bid’ah, semuanya sesat. Hal ini jika dikembalikan kepada pribadi Rasulullah sebagai sosok yang memang diberi anugerah untuk mengungkapkan jawami’ al-Kalam (singkat tapi padat), maka sangatlah diperlukan kajian lebih mendalam lagi mengenai konsep peredaksian hadits-hadits yang diucapkan oleh beliau. Dalam kajian linguistik yang lebih jauh lagi (Balaghah), lafadz ini memiliki dua kemungkinan makna. Pertama, al-Istighraq (all-inclusive), yakni meratakan seluruh lafadz setelahnya dalam satu hukum, seperti pada contoh [20]كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ, dalam ayat tersebut Kullu berfaedah Istihgra’, setiap makhluk hidup pasti akan binasa tanpa terkecuali.[21] Kedua, Kullu yang mengandung mustatsnayat, yaitu terdapat pengecualian dari cakupan kata Kullu, dan memiliki arti sebagian, hampir keseluruhan atau juga kebanyakan, seperti pada contoh sabda  Rasulullah: “Sesungguhnya biji hitam ini (al-habbat al-sauda’) adalah obat bagi segala (kull) penyakit kecuali mati”.[22] Para mufassir sepakat bahwa kalimah ‘umum’ yang digunakan dalam hadits ini merujuk kepada sesuatu yang ‘khusus’. Maksud hadith ini sebenarnya ialah ‘beberapa’ penyakit bisa disembuhkan dengan habbat al-sauda’, jadi bukanlah semua jenis penyakit dapat disembuhkan dengan satu obat, karena hal ini juga bertentangan dengan logika dan juga ilmu pengetahuan. Ada Mustatsna (pengecualian) yang tersimpan selain Mustatsna yang nampak (mati), dengan kata lain ada beberapa penyakit lain (selain mati) yang tidak bisa disembuhkan dengan al-habbat al-sauda’.[23]

Dari dua kaidah mengenai pemaknaan lafadz Kullu di atas, belumlah dapat disimpulkan secara pasti, Kullu bid’ah dlalalah termasuk dalam kategori pemaknaan yang mana. Sehingga diperlukan tambahan data guna melengkapi analisis redaksi Hadits di atas. Dalam kaidah Ushul al-Fiqh, lafadz yang berkonotasi ‘Amm memliki tiga kemungkinan makna, pertama, lafadz ‘Amm yang tidak mungkin di-takhshish, adalah lafadz ‘Amm yang disertai oleh qarinah yang meniadakan pen-takhshish-annya,[24] seperti dalam firman Allah:

……. وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ………

…..dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air….[25]

Kedua, ‘Amm yang dimaksudkan khusus karena adanya qarinah yang menghilangkan keumumannya dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dari lafadz itu adalah sebagian dari satuan-satuannya,[26] seperti firman Allah

…….وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ….

“…..dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah ialah melaksanakan ibadah haji ke baitullah…”[27]

Yang dimaksud manusia dalam ayat ini hanyalah tertentu kepada Mukallaf, yakni orang yang Islam, Baligh, dan berakal. Pengecualian anak kecil dan juga orang gila disebabkan adanya indikator sumber hukum lain yang menyatakan bahwa setiap kewajiban hanya dibebankan kepada mukallaf.

Ketiga, ‘Amm yang bermakna khusus tanpa adanya qarinah yang melatarbelakangi kekhususannya.[28]

Ketiga kategori pemaknaan lafadz ‘Amm di atas, kemungkinan kedua yang paling tepat untuk memaknai lafadz ‘Amm “وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ”, karena adanya Takhshis dari hadits lain yang menyatakan bahwa perkara baru yang dibuat seseorang dalam urusan agama terbagi atas dua bagian, baik dan buruk. Yakni hadits:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

Barang siapa yang mengawali perbuatan yang baik dalam agama Islam (guna diikuti oleh orang setelahnya), maka baginya pahala (dari perbuatan tersebut) dan juga pahala orang yang mengamalkannya setelahnya dengan tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun, dan barang siapa yang mengawali perbuatan yang buruk dalam agama Islam (guna diikuti oleh orang setelahnya), maka baginya dosa (dari perbuatan tersebut), dan juga dosa orang-orang yang mengerjakan setelahnya dengan tanpa mengurangi dosa-dosa mereka satu sama lain”

Metode inilah yang disebut dengan Takhshish al-‘Amm, yakni mengkhususkan dalil yang masih bersifat umum kepada yang khusus dengan ditemukannya dalil lain yang mengkhususkan keumumannya. Maka kesimpulan sementara yang didapat, perkara baru yang sesat (Dlalal) hanya yang berkaitan dengan urusan baru di dalam agama dan bersifat tercela (sayyi’ah/madzmumah), yakni yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.

Hasil analisis ini juga didukung dengan pernyataan beberapa Ulama yang juga membagi Bid’ah ke dalam dua kategori. Menurut Ibnu Atsir, bid’ah terbagi menjadi dua, yakni : Bid’ah yang baik (hudan) dan bid’ah yang sesat (dlalal). Bid’ah yang tidak sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya termasuk golongan bid’ah sesat yang dicela agama. Namun, jika sesuai dan tidak melanggar aturan Allah serta Rasul-Nya, maka termasuk bid’ah yang baik dan terpuji. Sedangkan apabila belum ada contoh atasnya seperti perbuatan bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, menuntut ilmu di sekolah dan perguruan tinggi, dan seluruh perbuatan baik lainnya, ia dianggap sebagai perbuatan terpuji asal tidak bertentangan dengan syariat agama.[29]

Senada dengan pernyataan Ibn al-Atsir di atas, dalam Fath al-Bāri karya Ibn Hajar al-Asqalany disebutkan dalam syarah hadis-hadis larangan melakukan bid’ah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, yakni bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Bid’ah mahmudah adalah bid’ah yang sesuai dengan sunnah. Sementara bid’ah madzmumah adalah bid’ah yang menyalahi sunnah. Riwayat ini dikeluarkan secara maknawi oleh Abu Nu’aim dari jalan Ibrahim bin Junaid dari Imam Syafi’i.[30] Dalam keterangan lain dari kitab yang sama dijelaskan dari riwayat Baihaqi bahwa Imam Syafi’i berpendapat, bid’ah itu ada dua. Bid’ah yang menyalahi Qur’an, sunnah, atsar sahabat, dan ijma’ merupakan bid’ah sesat. Sementara bid’ah yang sesuai dengan kebaikan dan tidak menyalahinya, maka itu bukan bid’ah yang sesat.[31]

Hadits lain yang juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk men-takhsis hadits kullu bid’ah dlalalah ialah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ

“….dari Ibn ‘Umar berkata: ketika kami shalat bersama dengan Rasul, salah seorang dari Jama’ah mengucapkan kalimat “Allah Akbar kabiran wa alhamdu lillahi katsiran wa subhana Allah bukratan wa ashilan” kemudian berkata Rasul: Siapa yang telah membaca kalimat tersebut? Lalu berkatalah pemuda tersebut: Saya wahai Rasul. Dan kemudian Rasul bersabda: Saya ta’jub mendengar kalimat itu, dan pintu-pintu surga telah dibukakan untuk orang yang membacanya. Dan berkata Ibn ‘Umar: Saya tidak pernah meninggalkannya (bacaan tersebut) semenjak Rasul bersabda yang demikian itu”

Hadits ini memberikan ketegasan bahwasannya Rasul pun menerima perkara baru dalam urusan peribadatan yang datangnya tidak dari beliau secara langsung, karena bacaan “kabiran wa alhamdu… dst” tersebut berasal dari sahabat yang kemudian didengar oleh Rasul, dan Rasul tidak menyalahkannya, bahkan memberikan apresiasi terhadap bacaan yang dibuat oleh sahabat tersebut. Namun tetap dalam ketentuan syari’at yang ada, karena pasca wafatnya Rasul kita tidak bisa mengkorfirmasi benar salahnya suatu perkara kepada beliau secara langsung. Sehingga al-Qur’an, al-Hadits, Qaul al-Shahabah dan juga Atsar al-Tabi’in mutlak menjadi pegangan yang harus dipertimbangkan dalam memutuskan suatu hukum. Karena dalam etika berijtihad, seseorang haruslah bersungguh-sungguh dalam menggali hukum suatu perkara untuk ditemukan solusinya, apabila ia benar maka akan mendapatkan dua pahala, dan apabila salah, ia akan mendapatkan satu pahala. Asalkan dengan catatan berhati-hati dan bersungguh-sungguh sesuai dengan makna kata ijtihad itu sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam Hadits Rasul:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي قَيْسٍ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ قَالَ فَحَدَّثْتُ بِهَذَا الْحَدِيثِ أَبَا بَكْرِ بْنَ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ فَقَالَ هَكَذَا حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُطَّلِبِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ[32]

“… Amr ibn ‘Ash mendengar Rasulullah bersabda: Jika seorang hakim ketika menghukumi suatu perkara dengan ijtihadnya, dan kemudian dia benar (ijtihadnya) maka baginya dua pahala, dan apabila dalam menghukumi perkara tersebut dengan ijtihadnya yang salah, maka baginya satu pahala…..”

Jikalau memang Bid’ah diharamkan secara mutlak lantas mengapa Rasul juga membolehkan ijtihad seperti dalam haditsnya di atas. Dalam riwayat lain

3594 – حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِى عَوْنٍ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أَخِى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ « كَيْفَ تَقْضِى إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ ». قَالَ أَقْضِى بِكِتَابِ اللهِ. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى كِتَابِ اللهِ ». قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ فِى كِتَابِ اللهِ ». قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِى وَلاَ آلُو. فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- صَدْرَهُ وَقَالَ « الْحَمْدُ للهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللهِ لِمَا يُرْضِى رَسُولَ اللهِ ».[33]

Hadits ini juga mengarahkan pada kebolehan mengadakan perkara baru (dengan jalan ijtihad) dalam urusan Agama Islam, terlebih Rasul menyetujuinya bahkan memuji seraya menepuk dada Mu’adz yang berkata: saya akan berijtihad dengan pendapatku (jika tidak menemukan hukum suatu perkara dalam al-Qur’an dan Hadits).

Dari uraian analisis linguistik yang juga dipadukan dengan pendekatan tematik, yakni mengaitkannya dengan hadits-hadits lain setema, dapat ditarik kesimpulan sementara, bahwa bid’ah yang dilarang oleh Rasul adalah Bid’ah dalam urusan Agama yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits secara prinsipil. Namun ini bukan merupakan kesimpulan final, karena nantinya akan berusaha diulas mengenai pendekatan beberapa ilmuan dalam membahas tema bid’ah secara komprehensif. Yakni tidak terpaku terhadap teks hadits di atas.

2.3. Setiap Kesesatan Nerakalah Tempatnya

Pembahasan ini tidak akan terlalu panjang lebar, karena potongan hadits sebelumnya telah dibahas cukup rinci, sehingga kekhususan lafadz sebelumnya mempengaruhi kejelasan pemaknaan redaksi setelahnya. Sebelumnya disiggung mengenai kriteria perkara baru yang dianggap Bid’ah, dan bid’ah yang tidak diperbolehkan. Sehingga makna Bid’ah yang tergolong dhalalah disini menjadi ikut menyempit, yakni bid’ah yang tergolong dlalalah ialah bid’ah diniyyah sayyi’ah. Adapun lafadz kullu dalam redaksi kullu dhalalah—hemat penulis—merupakan kullu yang berfaedah li al-Istighraq, yakni meleburkan segala jenis kesesatan ke dalam satu hukum, dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya. Berbeda dengan kalimat kullu bid’ah, lafadz tersebut menjadi khusus karena adanya takhshish dari beberapa hadits lain. Namun kullu dlalalah disini mutlak tanpa pengecualian, karena tidak adanya dalil yang mengkhususkan keumumannya.  Jadi memang setap kesesatan merupakan perbuatan tercela yang balasannya ialah neraka.

  1. 3. Praktek Keagamaan Pasca Wafatnya Rasul

Beberapa praktek keagamaan para sahabat sangatlah berhati-hati dalam melaksanakannya. Mereka sangat selektif memilih informasi tentang hal ihwal Rasull semasa hidupnya. Hal ini dapat terlihat salah satunya dengan adanya taqlil al-riwayah. Namun di sisi lain, dari kehatian-hatian tersebut, bukanlah berarti segala yang dilakukan sahabat sama persis seperti apa yang telah dilakukan Rasul. Salah satu contoh, ialah kodifikasi Al-Qur’an. Pada masa Rasul, al-Qur’an diperintahkan agar ditulis dalam berbagai lembaran-lembaran terpisah. Tidak diperintahkan untuk mengumpulkannya dalam satu buku. Namun pasca terjadinya perang Yamamah, banyak sekali para sahabat yang hafal al-Qur’an meninggal, tercatat ada 70 orang sahabat yang meninggal dari kalangan Huffadh. Hal ini yang kemudian melatarbelakangi ‘Umar mencetuskan pemikiran untuk mengumpulkan lembaran-lembaran al-Qur’an menjadi satu kumpulan tulisan (buku). Pada awalnya Abu Bakr—selaku khalifah pada saat itu—ragu untuk melaksanakannya, berdasarkan alasan Nabi tidak pernah melakukan sebelumnya. Namun karena alasan kemaslahatan yang dikemukakan oleh ‘Umar begitu kuat, akhirnya Abu Bakr pun menerima usulan tersebut.[34] Tidak dapat dipungkiri, bahwa hal tersebut merupakan salah satu hal yang tidak pernah dilakukan Rasul semasa hidupnya, dan perkara ini erat kaitannya dengan urusan Agama (diniyyah). Maka jikalau keumumam lafadz Kullu bid’ah dlalalah berlaku pada kasus ini, tentulah kodifikasi semacam ini juga termasuk kepada perkara yang dlalalah,padahal secara rasional, hal ini tentulah tidak tepat.

Kasus lain yang ditemukan pada masa sahabat, shalat tarawih secara berjama’ah. Pada masa Nabi, shalat tarawih dilakukan secara sendiri-sendiri. Memang pada awalnya Rasul pernah melakukannya secara berjama’ah, namun karena dikhawatirkan dianggap wajib, maka Rasul pun meninggalkannya. Akan tetapi pada masa kekhalifahan ‘Umar ibn Khattab, shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah, dan rakaatnya pun ditentukan menjadi 20 rakat. Hal ini secara bahasa tentulah dianggap sebagai Bid’ah, karena Rasul tidak melaksanakan yang demikian. Dan ‘Umar pun mengatakan : “Inilah Bid’ah yang bagus” (Ni’mat al-Bid’ah Hadzihi).[35] Sehingga secara bahasa, hal tersebut (shalat tarawih jama’ah) tidaklah terlepas dari istilah bid’ah, namun secara syar’i hal tersebut tidak dikatakan Bid’ah, karena bid’ah secara pengertian syara’ ialah tertentu pada perkara baru dalam agama yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Kasus lainnya yang disebutkan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi sebagai bid’ah mahmudah yang dilakukan para shahabat ialah adzan Jum’ah yang kedua, dilakukan oleh ‘Utsman dengan tujuan penguatan terhadap seruan kepada umat manusia yang kemudian diteruskan oleh khalifah setelahnya, yakni ‘Ali ibn Abi Thalib.[36]

E. Beberapa Pemabahasan Tentang Bid’ah

Dari sisi Hadits, dirasa cukup keterangan yang ada untuk mensyarahkannya. Akan tetapi terdapat aspek-aspek lain yang seharusnya diikut-sertakan ketika membahas tema bid’ah ini. Dalam pembahasannya, penulis berusaha menghadirkan data dari berbagai literatur yang pada umumnya memang terdapat dalam kitab-kitab yang membahas tentang tema Bid’ah ini. Diantaranya pembagian bid’ah dari berbaga tinjauan, hukum bid’ah, yang akan dipaparkan dalam pembahasan selanjutnya.

  1. 1. Pembagian Bid’ah

Sebelumnya telah sedikit diulas mengenai pembagian bid’ah menurut al-Syafi’i dan Ibn al-Atsir mengenai pembagian bid’ah dari sisi baik buruknya. Namun ternyata, dalam berbagai karya, pembagian bid’ah tidak hanya dibagi menjadi dua bagian tersebut, melainkan banyak sekali klasifikasi bid’ah yang terbagi atas beberapa pembagian. Berikut keterangannya.

  1. a. Pembagian berdasarkan Haqiqi dan Idlafiy

Pembagian ini berdasarkan segi Ushul dan furu’ dalam ajaran Islam. Adapun yang dimaksud dengan bid’ah haqiqiyyah: perkara baru yang tidak didapatkan dalil disyari’atkannya, baik itu dari al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan juga tidak terdapat pada pengambilan hukum yang dilakukan oleh mayoritas Ulama. Dan bid’ah semacam ini tergolong ke dalam bid’ah sayyi’ah seperti contoh: mengharamkan yang halal, menolak kehujjahan sunnah, membuat ibadah yang baru (menambah model shalat yang lain), dan lain sebagainya.[37]

Bid’ah Idlafiyyah: yakni perkara baru dalam agama, yang dipandang dari satu sisi adalah sunnah dan dari sisi lain merupakan bid’ah. Maksudnya ialah, secara prinsip telah diajarkan oleh Rasul, namun dalam prakteknya tidak pernah dilakukan oleh Rasul.[38] Seperti contoh yang telah disebutkan sebelumnya, menuntut Ilmu telah diajarkan oleh Rasul, akan tetapi mengenai praktek yang berkembang pada masa sekarang—sekolah, kursus, kuliah, belajar via internet—tidak pernah dilakukan oleh beliau.

  1. b. Pembagian berdasarkan Diniyyah dan Dunyawiyyah

Sebelumnya juga sedikit dibahas mengenai hal ini. Yakni membagi perkara baru ke dalam dua dimensi, duniawi dan ukhrawi (diniyyah). Dunyawiyyah: perkara baru yang tidak pernah dilakukan oleh Rasul yang tidak berhubungan dengan praktek peribadatan secara langsung (mahdlah), dan hal ini tidaklah mungkin dapat dihindari, karena hal ini erat kaitannya dengan perkembangan zaman dan kebiasaan individual masing-masing orang, seperti: naik mobil, makan sosis dan lain sebagainya.[39]

Diniyyah: yakni perkara baru yang muncul setelah wafatnya nabi yang berorientasikan kepada tujuan mendekatkan diri kepada Allah, seperti: membuat shalat baru, menambah raka’at tiap-tiap shalat, dan beberapa permasalahan lain. Pembagian ini juga berhubungan dengan pembagian Hasanah dan sayyi’ah dan juga haqiqiyyah dan idlafiyyah.[40]

  1. c. Pembagian berdasarkan I’tiqadiyyah, Qauliyyah, dan ‘Amaliyyah

I’tiqadiyyah: keyakinan baru yang dibuat setelah wafatnya rasul, seperti berkeyakinan adanya Nabi baru, Ali sebagai Nabi, Tuhan memiliki anak, dan keyakinan lainnya yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.[41]

Qauliyyah: ucapan ataupun dzikr yang tidak pernah ada di zaman rasul, mengenai hal ini, sangatlah banyak sekali perbedaan. Jika berangakt dari hadits yang mewartakan tentang bacaan shalat yang dibuat oleh sahabat, dan Rasul membenarkannya, maka perkara ini dianggap tidak bertentangan. Namun jika memandangnya dari sudut lain, maka hal ini bisa dianggap sesat. Seperti halnya shalat menggunakan bahasa daerah.[42]

‘Amaliyyah: perkara baru yang diadakan pasca wafatnya Rasul yang sifatnya aplikatif. Seperti halnya shalat menggunakan cara sendiri (sayyi’ah), menggelengkan kepala di waktu berdzikir (idlafiyyah, hasanah aw sayyi’ah).[43]

  1. 2. Hukum Bid’ah

Tentang bagaimana memandang hukum bid’ah ini, maka tidaklah lepas dari bagaimana sudut pandang seseorang mengartikan bid’ah, bagaimana seseorang mengklasifikasikan bid’ah, dan juga asas yang dibangun dalam pengaplikasian pemahaman tersebut. Cukup rumit memang pemahaman dan juga pembagian bid’ah ini, karena antara satu pembagian dengan pembagian yang lain saling berkaitan dan juga mempertimbangkan konsistensi pembatasan bid’ah itu sendiri. Akan terjadi kerancuan apabila dalam satu sisi menggunakan batasan satu, di sisi lain menggunakan batasan yang lain. Dalam poin ini hanya akan dijelaskan gambaran umum mengenai bagaimana ulama mengklasifikasikan hukum Bid’ah.

Al-Syaikh Abu Abd Allah al-Zarkasyi dalam kitabnya Al-Mantsur fi al-Qawa’id, membagi bid’ah dari sisi hukum melaksanakannya terbagi atas lima bagian,[44] sesuai dengan hukum yang terdapat dalam permasalahan keagamaan lainnya.

  • Wajib: perkara ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang wajib, dan tidak didapatkan nash yang mewajibkannya, namun dikarenakan terdapat perkara wajib lain yang tidak bisa sempurna tanpa melaksanakannya, maka perkara ini juga memiliki implikasi hukum wajib, berdasarkan kaidah:

مالايتم الواجب الا به فهو واجب

Beliau menghadirkan contoh, mempelajari ilmu nahwu. Karena pemahaman Islam adalah bersumber dari al-Qur’an Hadits, maka wajib hukumnya untuk mempelajari disiplin ilmu yang mengantarkan pemahaman mendalaminya.

  • Sunnah (Mandub): hal ini dianggap mandub berdasarkan kemaslahatan yang terkandung di dalamnya sekalipun tidak pernah di nash-kan kesunnahannya: seperti halnya memberikan metode pembelajaran yang baru dalam memudahkan membaca al-Qur’an (Qira’ati, Dirasaty), dan lain sebagainya.
  • Haram: keharaman ini pastinya mengarah kepada perkara baru yang bertentangan dengan prinsip ajaran Aga Islam, seperti halnya mengaku Nabi, mengurangi bilangan raka’at shalat, dan lain-lain.
  • Makruh: mempertimbangkan adanya kemadlaratan yang ditimbulkan, dengan catatan tidak sampai menyalahi Nash-nash al-Qur’an Hadits, seperti halnya menginjak-injak mushaf di depan publik, karena akan menimbulkan keresahan sekalipun tidak diharamkan secara Nash.
  • Mubah: Mubah ini, ialah perkara yang sah-sah saja dilakukan tanpa menimbulkan kemadlaratan, dan apabila dilakukan tidak terdapat manfa’at yang di dapat. Seperti halnya membawa mushaf tanpa adanya maksud apa-apa. Hal ini dianggap mubah, karena pad zaman Rasul tidak didapatkan mushaf yang telah terbukukan.

F. Simpulan dan Penutup

Berbagai uraian dan keterangan di atas adalah sebuah upaya untuk menafsirkan (Tasyrih) Hadits—yang pada dataran eksplisitnya menafikan segala bentuk tindakan baru yang sama sekali tidak pernah ada di zaman Rasul—untuk dikategorikan sebagai perkara yang haram. Tentunya hal ini jika tetap dimaknai secara literal, maka kesalehan lokal (Local Wisdom) tidak akan terwujud dikarenakan adanya selang waktu yang cukup jauh, dan juga perberbedaan peradaban ketika Rasul Hidup. Dan tidaklah mungkin Islam—sebagai agama Rahmatan li al-‘Alamin—menghendaki adanya un-sinkronisasi antara perilaku umat dengan fakta empirik yang sedang terjadi. Apabila tetap mengamalkannya tekstual, terkesan lari dari peradaban dan perkembangan zaman.

Maka solusi yang diambil oleh penulis adalah memaknainya dengan analisis linguistik yang juga dipadukan dengan redaksi Hadis lain, dan tanpa meninggalkan kontribusi pemikiran para Ulama klasik dalam men-syarah-kannya. Dan kesimpulan yang dapat diambil ialah, tidak semua perkara baru termasuk ke dalam cakupan bid’ah, akan tetapi dikhususkan pada perkara yang hubungannya dengan hukum syar’i, dan lebih khusus lagi kepada ibadah vertikal (Habl min Allah). Untuk selanjutnya, lebih spesifik lagi, tidaklah semua perkara ibadah vertikal itu termasuk bid’ah, akan tetapi hanya perkara yang bertentangan secara prinsipil dengan al-Qur’an dan Sunnah, yakni bid’ah yang terlarang ialah al-Bid’ah al-Diniyyah al-Sayyi’ah (alladzi Yukhalif al-Kitab wa al-Sunnah) al-Haqiqiyyah.

Dalam kajian Ma’an al-Hadits, seharusnya menyajikan analisis historis serta kontekstualisasi dengan fakta kekinian, namun penulis hanya mengkajinya pada dataran teoritis. Hal ini dirasa cukup karena memang Hadits yang diangkat berangakat dari statement Nabi yang kapasitasnya sebagai pembawa Risalah, bukan sebagai pemimpin dan juga bukan sebagai kepala keluarga, sehingga tidak berangkat dari studi kasus sebagaimana penelitian Ma’an al-Hadits pada umumnya. Karena apabila berangkat dari Hadits Nabi yang mengandung kemungkinan bukan wilayah kerisalahan, terdapat ruang yang dapat diteliti, yakni kondisi sosio-kultural bangsa Arab yang mempengaruhi munculnya Hadits tersebut. Namun dalam penelitian ini tidak didapatkan ruang tersebut, karena—hemat penulis—tidak ada pengaruhnya antara Asbab al-Wurud dengan pemaknaan Hadits, wilayahnya Risalah yang bersifat tuntunan dari Wahyu.

Pada akhirnya:

“Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Wudhu’”.[45]

Begitu juga makalah ini, tak kan terlepas dari banyaknya kekeliruan dalam menganalisis data, ataupun kesalahpahaman dalam menyampaikan, tidak lugasnya bahasa yang dipakai, dan masih banyak sekali kekurangan yang jika diungkapkan satu-persatu akan lebih tebal dari pembahasan makalah itu sendiri. Semoga sedikit ini, dapat memberikan kontribusi ilmiah, meskipun sejatinya tidak ilmiah.


[1] Al-Nasa’i 1560 dalam CD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, Global Islamic Software, 1999.

[2] Hadits-hadits ini dikutip dari CD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, nama bab, dan juga nomer Hadits diambilkan langsung darinya, sehingga sangat memungkinkan adanya perbedaan nomer Hadits dengan yang terdapat dalam kitab asli, ataupun juga pada software yang lain, seperti al-Maktabah al-syamilah, dan lain-lain.

[3] Shahih Bukhari no. 2499.

[4] Sunan Ibn Majah no. 48

[5] Penggambaran mudahnya dia keluar dari Islam. Jika dipahami secara literal, maka Hadits ini menyatakan bahwa orang yang membuat bid’ah telah murtad.

[6] Shahih Muslim no. 1691

[7] Hadis riwayat Muslim no. 943. Hadis serupa juga dikeluarkan oleh al-Nasa’i no. 875 dan 876, Tirmidzi no. 3516, dan Ahmad no. 4399.

[8] Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis; Metode Pemahaman Hadis Nabi: Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Cahaya Pustaka, 2008), hlm. 13-15.

[9] Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis; Metode…..hlm. 14-15. Namun dalam bukunya, penulis juga memberikan sanggahan terhadap pendapat Jumhur Ulama tersebut. Ia berargument bahwa tidak semua sahabat menjadi saksi primer dalam munculnya sebuah hadis,kualitas intelektual dan ketaqwaan para sahabat berbeda-beda, terlibatnya interpretasi sahabat dan juga informasi yang kontradiktif, dan hal-hal lain yang memang merupakan sanggahan terhadap penadapat Jumhur Ulama tersebut.

[10] A. Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 65

[11] Murtadla al-Zabidy, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus Juz I, dalam (CD ROM Al-Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2003), hlm. 5092

[12] Ibn Mandhur, Lisan al-‘Arab Juz 8, (Beirut: Dar al-Shadir, t.th.), hlm. 6.

[13] ‘Izzat ‘Ali ‘Athiyyah, Al-Bid’ah; Tahdiduha wa Mauqif al-Islam Minha, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiy, 1980), hlm. 157-158.

[14] Definisi ini menurut Ibn Taimiyyah, yang dikutip oleh Abd Allah ibn Abd Al-Aziz dalam kitabnya Al-Bida’ al-Hauliyyah Juz I, hlm. 12 CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, ungkapan senada dikeluarkan oleh al-Syatibi dalam Al-I’tisham : Bid’ah ialah sesuatu baru yang dimaksudkan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga perkara yang hubungannya dengan duniawi menjadi terkecualikan dalam pembatasan ini.

[15] Definisi ini dikemukakan oleh Imam al-Syafi’i, al-Qarafi, al-Ghazali, Ibn al-Atsir, yang juga dikutip dari Al-Bida’ al-Hauliyyah Juz I, hlm. 11 CD ROM al-Maktabah al-Syamilah. Imam syafi’i membagi Bid’ah menjadi dua bagian, mahmudah dan madzmumah. Adapun yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah ialah Madzmumah, sehingga konsekwensi yang lebih jauh lagi, keharaman bid’ah hanya tertentu yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah.

[16] Hadits dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya tidak disertakan sanad dan juga sumbernya, karena pada point sebelumnya telah disinggung panjang lebar.

[17] Lihat: Dr. Muhammad Alwi al-Maliky, Mafahim Yajibu an Tushahhah, (Kairo: Dar Jawami’ al-Kalim, t.th) hlm. 46-49)

[18] Sunan Ibn Majah no. 2462 Kitab al-Ahkam, bab Talqih al-Nahl.

[19] Lihat: Dr. Muhammad Alwi al-Maliky, Mafahim Yajibu an Tushahhah, hlm. 46-49.

[20] QS. Ali Imran (3): 185.

[21] Ibn Hisyam, Mughni al-Labib an Kutub al-‘A’arib Juz I, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, hlm. 73.

[22] Diriwayatkan dari ‘A’isyah dan Abu Hurairah ditakhrij oleh Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ahmad melalui sembilan belas periwayatan. Al-Zuhri menyebut: “Biji hitam itu ialah ‘jintan hitam’ (alshunīz).” Ia juga dinamakan ‘jintan India’ dan pelbagai nama-nama lain.

[23] Sheikh Gibril Fouâd Haddâd, Memahami Bid’ah dalam http://www.livingislam.org/n/mb_e.html..

[24] Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih, (Jakarta: Amzah, 2005), hlm. 14, lihat juga Abd al-Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, (Kairo: Dar al-Qalam, 1978), hlm. 185.

[25] QS. Al-Anbiya’(21): 30.

[26] Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih, hlm. 14, lihat juga Abd al-Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, hlm. 185.

[27] QS. Ali Imran(3): 97.

[28] Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih, hlm. 14-15, lihat juga Abd al-Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, hlm. 186.

[29] Ibnu Atsir, al-Nihayah fi Gharib al-Hadis wa al-Asar juz I (Beirut: Dar Ihya’ al-Turas al-Araby, t.th.), hlm. 106. Beliau juga mendasarkan pendapatnya dengan hadits man sanna…..

[30] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Bāri, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, hlm. 330.

[31] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Bāri, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, hlm. 330

[32] Bukhari no. 6805, diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Majah, dan Imam Ahmad.

[33] Ibn Majah no. 3594.

[34] Mushtafa al-A’zami, Sejarah Teks al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi terj. Sohirin Solihin dkk. (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hlm. 83-90.

[35] Lihat: Muhammad ‘Abd Al-Rahman, Tuhfah al-Ahwadzi Juz V CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, hlm. 366.

[36] Muhammad ‘Abd Al-Rahman, Tuhfah al-Ahwadzi Juz V CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, hlm. 366-367.

[37] Izzat ‘Ali ‘Athiyyah, Al-Bid’ah; Tahdiduha wa Mauqif al-Islam Minha, hlm. 272-274.

[38] Zaky Muhammad, Risalah al-Qiyam al-Rabbaniyyah; Fi Hadam Thuruq al-Bid’ah, (Yogyakarta: Percetakan Krapyak, 2003), hlm. 7. Lihat juga Izzat ‘Ali ‘Athiyyah, Al-Bid’ah; Tahdiduha wa Mauqif al-Islam Minha, hlm.274. jikalau berpaham bahwa setiap bid’ah itu semuanya sesat tanpa adanya pengklasifikasian, maka menuntut ilmu pun seharusnya hanya terbatas pada halaqah-halaqah dan juga khutbah-khutbah seperti yang terdapat pada masa Rasul. Karena menuntut ilmu masih berkaitan dengan permasalahan keagamaan.

[39] Zaky Muhammad, Risalah al-Qiyam al-Rabbaniyyah; Fi Hadam Thuruq al-Bid’ah, hlm. 7 lihat juga Hasby al-Shidiqiy, Criteria Antara Sunnah dan Bid’ah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1967), hlm. 48. Namun dalam buku Hasby tersebut disebutkan dengan Bid’ah ‘Adiyyah.

[40] Zaky Muhammad, Risalah al-Qiyam al-Rabbaniyyah; Fi Hadam Thuruq al-Bid’ah, hlm. 7 lihat juga Hasby al-Shidiqiy, Criteria Antara Sunnah dan Bid’ah, hlm. 48, dan dalam redaksi Hashby disebutkan dengan Ibadiyyah.

[41] Izzat ‘Ali ‘Athiyyah, Al-Bid’ah; Tahdiduha wa Mauqif al-Islam Minha, hlm.304. bid’ah ini mutlak termasuk ke dalam bid’ah sayyi’ah.

[42] Izzat ‘Ali ‘Athiyyah, Al-Bid’ah; Tahdiduha wa Mauqif al-Islam Minha, hlm.304.

[43] Izzat ‘Ali ‘Athiyyah, Al-Bid’ah; Tahdiduha wa Mauqif al-Islam Minha, hlm.304

[44] Abu ‘Abd Allah al-Zarkasyi, Al-Mantsur fi al-Qawa’id Juz I, (Kuwait: Wizarah al-Auqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah, 1405 H), hlm.219.

[45] Karena dalam tempat wudlu Masjid tertuliskan “Sempurnakanlah Wudhu’”.

Nasi Tukar Bendera

Posted: November 30, 2010 in Politik

Bencana alam, istilah yang membuat hati tersentak. Fenomena alam yang terjadi secara dadakan meniscayakan adanya kekeagetan

mental, dan korban pun menjadi konsekuensi yang tidak bisa ditawar. Korban yang berjatuhan mengundang simpati dari manusia lain yang merasa terpanggil nuraninya untuk saling membantu dan menukar kesedihan para korban dengan bantuan yang ditawarkan.

Merapi salah satunya, letusan yang terjadi 26 oktober lalu—disusul kemudian beberapa erupsi—menewaskan beberapa korban, Mbah Marijan pun masuk ke dalam daftar nama yang dinyatakan tewas karena panasnya awan hitam. Pasca letusan yang menggembalakan wedus gembel keluar dari kandangnya tersebut, warna putih bendera Indonesia kembali menyala dengan terangnya. Kita bisa sangat bangga dengan budaya tulung-tinulung yang dimiliki bangsa kita. Bantuan serentak membanjiri posko-posko pengungsian di sekitar Jogja-Magelang. Tidak hanya bantuan material (logistik, alat mandi, obat-obatan, dan lain sebagainya), tapi juga bantuan penyuluhan mental dan spiritual, seperti misalnya Trauma Healing untuk anak-anak, ataupun ceramah-ceramah keagamaan. Betapa Indonesia adalah bangsa yang berbudi luhur tak tertandingi.

Sangat disayangkan jika kebanggaan kita itu akhirnya terkikis oleh kekecewaan yang jauh lebih dalam. Dari sekian banyaknya posko yang didirikan, keragaman tujuan nampak tergambarkan. Betapa tidak, posko-posko tersebut dengan megahnya berdiri dengan kesan kemanusiaan yang begitu tinggi, namun tidak bisa dipungkiri, dari tulusnya bantuan yang diberikan, tersimpan tendensi politik yang begitu tinggi. Sangat bersebrangan dengan misi suci kemanusiaan yang mereka usung (secara lahiriyah). Para penggila suara dan massa itu saling berebut pengaruh di atas kekosongan hati para korban. Para politikus itu mengendus adanya satu kesempatan emas, di kala mental seseorang kacau yang diakibatkan oleh bencana alam, tentu kejiwaan (mentalita) mereka sangat mudah bersimpati kepada orang yang mau menolong mereka. Rasa terima kasih pun ditukarkan dengan kesetiaan terhadap golongan yang dirasa paling berjasa dalam menyelamatkan jiwa mereka. Tidak hanya partai politik yang berebut, tapi ormas, dan beberapa organisasi keagamaan pun turut andil dalam menghinakan martabat golongan mereka. Menukarkan Nasi mereka dengan simpati para korban dengan harapan nanti para korban tersebut menjadi bagian dari kelompok mereka. Sungguh bejat politik semacam ini. Memanfaatkan penderitaan orang lain dengan kepentingan pragmatis. Nurani kemanusiaan tergadaikan oleh kerakusan duniawi. Dakwah agama bukan lagi menjadi ajang Li I’la’i Kalimat Allah, tapi Li I’la’i Kalimat al-Siyasah, saling berebut pengaruh dan otoritas agama.

Kita pun tentunya tidak menafikan adanya beberapa organisasi yang murni bertujuan kemanusiaan, seperti “PMI” dan beberapa instansi lainnya—baik secara individu ataupun komunal. Namun hanya sebagian kecil dari banyaknya simpatisan yang ada. Penulis pun menyadari kebutuhan partai politik dan ormas keagamaan terhadap pengaruh dan massa, namun setidaknya tendensi politik tersebut tidak harus menempati porsi yang lebih besar dibanding bantuan yang diberikan, ataupun setidaknya hanya sekedar pengenal, bukan menjadi pamrih utama. Juga kita tidak bisa meniadakan peran mereka yang cukup membantu instansi pemerintah dalam menanggulangi bencana (yang memang kurang begitu tanggap dalam menanganinya, baik pusat maupun daerah).

Pak Presiden dan Ibu Negaranya turut menampilkan diri sebagai pahlawan, beliau menegaskan akan membantu memperbaiki rumah-rumah warga yang rusak akibat bencana Merapi. Semoga ucapan tersebut tidak hanya menjadi harapan kosong. Dan kita berharap, ketulusan Pak Presiden ini tidak tergadaikan dengan ambisi politik pencalonan Presiden empat tahun ke depan, atau tidak ada niat seidkitpun untuk mencari simpati agar tidak dilengserkan.

Tulisan ini merupakan hasil refleksi penulis pribadi selama menjadi relawan di salah satu organisasi sosial. Setidaknya sedikit pengantar kegelisahan atas fenomena sosial ini dapat menggugah kita, bahwa keikhlasan membantu sesama tidaklah harus disertai dengan adanya kepentingan. Kesucian niat, tulung-tinulung, kepedulian terhadap sesama merupakan sifat mulia yang pasti dimiliki oleh setiap makhluk yang mengaku berhati nurani, sehingga sangatlah tidak bijak jika kita mencampur-adukkan antara kepentingan pragmatis kita, dengan memanfaatkan penderitaan orang lain. Begitu pun bagi para korban, setidaknya kita bisa membaca secara kritis atas semua yang terjadi di hadapan kita.

Read the rest of this entry »